Penyakit autoimun merupakan gangguan yang terjadi ketika sistem imun tubuh menyerang sel-sel sehatnya sendiri, dengan data menunjukkan hampir 80 persen penderitanya adalah perempuan.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China: Merayakan 80 Tahun Kemenangan Perang
Jenis penyakit ini, seperti lupus dan artritis reumatoid, semakin meningkat dan berdampak pada kualitas hidup perempuan, mendorong para ahli untuk menyelidiki faktor risiko yang membuat mereka lebih rentan.
Penyebab dan Jenis Penyakit Autoimun
Penyakit autoimun muncul ketika sistem imun keliru mengenali sel sehat sebagai ancaman, dan lebih dari 100 jenis kondisi bisa memengaruhi individu dengan gejala yang bervariasi.
Kondisi-kondisi seperti Sjogren’s syndrome, lupus, rheumatoid arthritis, miositis, dan miastenia gravis sering kali memiliki gejala awal yang samar, seperti nyeri sendi dan kelelahan, yang bisa menyebabkan keterlambatan diagnosis.
Diagnosis penyakit autoimun memerlukan serangkaian tes darah serta konsultasi dengan beberapa dokter, sehingga pemahaman mendalam mengenai penyakit ini sangat penting untuk penanganan yang efektif.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Ukir Rekor Baru dengan Transfer Alexander Isak
Faktor Risiko Khusus untuk Perempuan
Menurut tinjauan dari National Institute Health, mayoritas penderita penyakit autoimun adalah perempuan, dengan faktor utama berupa variasi kromosom seks dan fluktuasi hormonal yang mereka alami.
Perempuan memiliki dua kromosom X, yang meningkatkan risiko mereka dibandingkan laki-laki, dan penelitian di PubMed Central menyebutkan bahwa gen Kdm6a lebih aktif dalam sel imun wanita.
Studi yang dilakukan oleh UCLA Health menunjukkan bahwa penghilangan gen tersebut dalam model hewan dapat mengurangi peradangan, mengindikasikan bahwa respons imun perempuan lebih kompleks dan memiliki risiko lebih tinggi.
Inovasi dalam Pengobatan Penyakit Autoimun
Harapan baru muncul dalam pengobatan penyakit autoimun, di mana inovasi terbaru bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada imunosupresan yang dapat menimbulkan efek samping serius.
Beberapa terapi baru, seperti terapi sel dan pendekatan eksperimental CAR-T, bertujuan untuk 'mereset' sistem imun di kondisi seperti lupus, dengan harapan dapat meningkatkan kualitas hidup penderita.
Seiring dengan itu, teknologi diagnostik seperti studi proteomik diyakini dapat membantu memprediksi flare lupus dengan lebih tepat, mendukung upaya untuk penanganan yang lebih personal dan tepat waktu.
Baca juga: Finfluencer: Solusi Modern untuk Memperbaiki Keadaan Finansial
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: