Senin, 17 NOVEMBER 2025 • 15:31 WIB

Xenotransplantasi: Harapan Baru Dalam Transplantasi Organ

Author

Xenotransplantasi: Harapan Baru Dalam Transplantasi Organ

Xenotransplantasi menawarkan harapan baru bagi pasien yang memerlukan donor organ, terutama ginjal, dengan memperkenalkan penggunaan organ dari spesies lain seperti babi.

Baca juga: Adrian Wibowo: Sejarah Pemain Indonesia-Amerika di Major League Soccer

Namun, tantangan utama dalam proses ini adalah penolakan hiperakut yang muncul akibat respons sistem imun manusia terhadap organ asing.

Uji Klinis dan Penelitian yang Dilakukan

Peneliti melakukan transplantasi ginjal babi yang telah direkayasa genetik pada seorang resipien yang dinyatakan mati otak, meskipun jantungnya tetap berfungsi. Selama 61 hari, tim peneliti melaksanakan pemantauan intensif serta pengumpulan sampel jaringan, darah, dan cairan tubuh untuk menganalisis interaksi antara sel imun manusia dan ginjal babi.

Melalui penelitian ini, terungkap bahwa penolakan organ terjadi karena adanya dua komponen penting, yaitu antibodi dan sel T, yang secara aktif menandai organ asing untuk diserang. Data yang diperoleh memberikan wawasan mendalam mengenai mekanisme penolakan yang terjadi selama transplantasi.

Baca juga: Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online: Komnas HAM temukan Pelanggaran Hak Asasi Manusia

Penemuan dan Terobosan dalam Penanganan Penolakan

Dengan memahami pola reaksi imun, peneliti berhasil membalikkan episode penolakan meskipun sudah terjadi sebelumnya. Melalui penggunaan kombinasi obat yang disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) di AS, mereka mampu menekan aktivitas antibodi dan sel T yang terlibat dalam penolakan organ.

Dr. Robert Montgomery, penulis utama studi, menekankan, 'Hasil kami lebih mempersiapkan kami untuk mengantisipasi dan mengatasi reaksi imun yang berbahaya selama transplantasi organ babi pada manusia yang hidup.' Temuan ini menunjukkan bahwa ginjal babi dapat berfungsi sebagai pengganti ginjal manusia tanpa menimbulkan kerusakan permanen.

Rekayasa Genetika Ginjal Babi

Rekayasa genetika ginjal yang digunakan dalam studi ini dilakukan oleh Revivicor, sebuah anak perusahaan dari United Therapeutics. Ginjal tersebut dimodifikasi untuk menghindari penolakan awal, menggunakan teknik canggih seperti CRISPR-Cas9.

Penghapusan gen GGTA1 yang memproduksi karbohidrat Alpha-Gal merupakan langkah penting dalam mengurangi risiko penolakan. Selain itu, peneliti turut menambahkan gen manusia seperti CD46, CD55, dan CD59 yang berfungsi sebagai inhibitor komplemen, memperkuat perlindungan organ dari serangan sistem imun.

Dr. Brendan Keating, penulis senior studi, menuturkan, 'Reaksi imun spesifik yang terungkap dalam investigasi kami memberikan target yang jelas untuk terapi guna meningkatkan keberhasilan xenotransplantation.'

Baca juga: Kunto Aji Serukan Tanggung Jawab Anggota DPR dan Kesadaran Masyarakat

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU