Senin, 17 NOVEMBER 2025 • 15:30 WIB

Kondisi Keluarga Pelaku Ledakan di SMAN 72 Jakarta Terungkap

Author

Kondisi Keluarga Pelaku Ledakan di SMAN 72 Jakarta Terungkap

Polisi mengungkap kondisi terkini keluarga anak yang terlibat dalam ledakan di SMAN 72 Jakarta, menyoroti faktor-faktor emosional yang mempengaruhi tindakan tersebut.

Baca juga: Mencintai Diri Sendiri: Pentingnya Self Love dalam Kehidupan Sehari-hari

Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers oleh Polda Metro Jaya pada Selasa, 11 November 2025.

Kondisi Emosional Pelaku

Dirreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanuddin, menjelaskan bahwa pelaku mengalami rasa terasing tanpa dukungan dari lingkungan sekitar.

Iman mencatat, 'Ada hal yang menarik juga di dalam proses penyidikan yang kami peroleh dari hasil penggalian keterangan maupun petunjuk-petunjuk yang ada. Bahwa yang bersangkutan anak berkonflik dengan hukum ini terdapat dorongan untuk melakukan peristiwa hukum tersebut.'

Ia melanjutkan, perasaan kesepian pelaku adalah salah satu faktor utama yang memicu tindakannya tersebut.

Menurut Iman, 'Dorongannya, di mana yang bersangkutan merasa sendiri kemudian merasa tak ada yang menjadi tempat untuk menyampaikan keluh kesahnya, baik itu di lingkungan keluarga maupun di lingkungannya itu sendiri, maupun di lingkungan sekolah.'

Struktur Keluarga Pelaku

Kombes Budi Hermanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya, memberikan penjelasan tentang struktur keluarga pelaku yang terlihat kompleks.

Baca juga: Menemukan Kebahagiaan dalam Momen Sederhana

'ABH tinggal bersama ayahnya, sementara ibu bekerja di luar negeri,' ungkap Budi saat dikonfirmasi.

Ia menjelaskan bahwa ayah pelaku adalah seorang pekerja biasa yang sulit memberikan perhatian penuh kepada anaknya.

'Ayahnya kerja,' tegas Budi, menunjukkan bahwa pelaku mungkin mengalami kekurangan perhatian emosional dari orang tua.

Dampak Perceraian Orang Tua

Budi juga menyoroti dampak perceraian orang tua terhadap kondisi psikologis pelaku.

'Kan kalau bicara tentang keluarga, ini kan sudah pisah. Ya (cerai),' ungkap Budi, menegaskan bahwa situasi ini berpengaruh terhadap mental dan emosional anak.

'Ini memenjadikan problem bagi si anak. Jadi ini sebenarnya ada sisi kemanusiaan, ada sisi empati yang harus juga kita jaga,' ujarnya, mencerminkan perhatian yang diperlukan bagi anak dalam keadaan seperti ini.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius bagi pihak kepolisian dan juga Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) untuk langkah-langkah antisipasi dan penanganan yang lebih baik di masa mendatang.

Baca juga: Penyelidikan Kasus Penjarahan di Rumah Eko Patrio Berlanjut

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU