Minggu, 16 NOVEMBER 2025 • 15:26 WIB

Peringatan Dini Cuaca Ekstrem di Cilacap: Rawan Longsor Pasca Hujan Deras

Author

Peringatan Dini Cuaca Ekstrem di Cilacap: Rawan Longsor Pasca Hujan Deras

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memberikan informasi terkait hujan berintensitas tinggi yang terjadi di Cilacap pada 13 November 2025, membawa risiko longsor di area tersebut.

Baca juga: Djokovic Melaju ke Semifinal US Open 2025 Setelah Kalahkan Fritz

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menekankan bahwa tingginya curah hujan ditambah kondisi atmosfer yang mendukung meningkatkan potensi pergerakan tanah di wilayah itu.

Kondisi Hujan yang Meningkat

Data dari Pos Hujan Majenang mencatat curah hujan yang ekstrem, yakni 98,4 mm/hari pada 10-11 November 2025. Hujan ringan menyusul kemudian turut berkontribusi terhadap kelembapan tanah yang tinggi.

Guswanto menjelaskan, "Rangkaian hujan tersebut membuat kondisi tanah semakin basah dan lereng menjadi lebih rentan terhadap pergerakan." Hal ini menjadikan daerah lereng di Cilacap sangat rentan akan longsor.

Pola cuaca yang sekarang ini juga berpengaruh, dengan adanya awan hujan yang terbentuk di Jawa Tengah. Dipicu oleh fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang atmosfer lainnya, potensi bencana ini semakin jelas.

Baca juga: Menemukan Kebahagiaan dalam Momen Sederhana

Peringatan Dini dan Modifikasi Cuaca

BMKG mengeluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem untuk wilayah Cilacap, yang berpotensi mengalami hujan lebat dalam periode 11-20 November. Andri Ramdhani, Direktur Meteorologi Publik BMKG, menegaskan bahwa hujan lebat diperkirakan kembali terjadi pada 19-22 November.

Sebagai langkah antisipatif terhadap kemungkinan longsor, BMKG bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menerapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Tri Handoko Seto, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca, menyatakan, "Skema penerapan OMC yang disiapkan berfokus pada pengamanan daerah bencana longsor."

Penerapan OMC akan mendapat pengawasan dari BMKG dan ditopang oleh BNPB dalam hal pendanaan operasional dari Dana Siap Pakai (DSP), khusus untuk penanganan darurat bencana.

Dampak Bibit Siklon dan Koordinasi Penanganan

BMKG juga memantau dua Bibit Siklon Tropis, yaitu 97S dan 98S, yang berada di dekat wilayah Indonesia. Guswanto menggarisbawahi bahwa meskipun keduanya memiliki potensi rendah untuk berkembang menjadi siklon tropis, dampak cuaca yang ditimbulkan harus diwaspadai.

Cuaca ekstrem pada 15-16 November 2025 diprediksi akan mencakup hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi. Masyarakat disarankan untuk waspada dan memperhatikan informasi dari BMKG secara seksama.

BMKG berkomitmen untuk terus menyampaikan informasi dan peringatan dini terkait potensi bencana hidrometeorologi melalui saluran resmi. Ini bertujuan agar masyarakat dan pemerintah daerah dapat meningkatkan kewaspadaan dan mitigasi terhadap bencana yang mungkin terjadi.

Baca juga: Calvin Verdonk Dekat Bergabung dengan Klub Prancis Lille

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU