Jumat, 14 NOVEMBER 2025 • 11:36 WIB

Ketegangan di Keraton Kasunanan Solo Pasca Wafatnya SISKS Paku Buwono XIII

Author

Ketegangan di Keraton Kasunanan Solo Pasca Wafatnya SISKS Paku Buwono XIII

Proses suksesi di Keraton Kasunanan Solo menjadi sorotan publik setelah wafatnya SISKS Paku Buwono XIII pada 2 November 2025.

Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Tersendat di Kualifikasi Piala Asia, Berakhir Imbang Melawan Laos

Dua putra dari PB XIII kini saling klaim takhta, mengulangi konflik serupa yang terjadi pada tahun 2004.

Wafatnya SISKS Paku Buwono XIII dan Awal Suksesi

SISKS Paku Buwono XIII meninggal dunia setelah menjalani perawatan lebih dari dua bulan akibat penyakit komplikasi. Kepergiannya terjadi pada pagi hari, dan beberapa saat setelah itu, jenazahnya dibawa ke Keraton Solo untuk disemayamkan.

Persiapan pemakaman PB XIII pun dilakukan dengan serangkaian upacara, termasuk rencana pemberangkatan ke Makam Imogiri, Bantul, yang dijadwalkan pada 5 November 2025.

Baca juga: Kericuhan Memanas di Bandung: Penjelasan Terkait Insiden Gas Air Mata

Klaim Takhta oleh KGPAA Hamangkunegoro

Di tengah persiapan pemberangkatan jenazah, KGPAA Hamangkunegoro Sudibyo Rajaputra mengumumkan klaimnya sebagai raja baru Keraton Solo. Ia menyatakan, "Mundhi dhawuh sabda Dalem Sampeyandalem ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan PB XIII..." saat membacakan pidato pelepasan jenazah, menunjukkan ambisi dan legitimasi yang diperoleh.

Klaim tersebut disampaikan di hadapan hadirin, menjadikannya sebagai Sri Susuhunan Keraton Surakarta Hadiningrat, dan menambah kerumitan dalam proses suksesi.

Pengukuhan KGPH Mangkubumi sebagai Raja

Pada 12 November 2025, undangan untuk penobatan raja baru disebarluaskan, dengan rencana penobatan yang diadakan pada 15 November. Hal ini menandai langkah berikutnya dalam proses suksesi yang sedang berlangsung.

Hari yang sama, rapat kerabat Keraton Solo yang dipimpin oleh Maha Menteri Keraton Solo, KGPA Tedjowulan, menghasilkan keputusan untuk melantik KGPH Mangkubumi sebagai raja baru. GRAy Koes Murtiyah Wandansari menyatakan, "Kami berpegang pada yang jenenge (namanya) hak. Itu kan Gusti Allah sing maringi..." menegaskan pentingnya legitimasi dalam pengukuhan tersebut.

Baca juga: Presiden Prabowo Temui Pimpinan Serikat Pekerja Bahas Aksi Demonstrasi dan RUU

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU