Senin, 10 NOVEMBER 2025 • 14:13 WIB

Penemuan Virus Corona Baru pada Kelelawar di Brasil: Apa yang Perlu Diketahui

Author

Penemuan Virus Corona Baru pada Kelelawar di Brasil: Apa yang Perlu Diketahui

Para ilmuwan telah menemukan virus corona baru yang dinamakan BRZ batCoV pada kelelawar di Brasil, dengan kesamaan genetik dengan SARS-CoV-2, penyebab COVID-19.

Baca juga: Adrian Wibowo: Sejarah Pemain Indonesia-Amerika di Major League Soccer

Penemuan ini menunjukkan kemungkinan virus telah beredar tanpa terdeteksi di wilayah Amerika Latin, mengingat terbatasnya aktivitas pengambilan sampel di daerah tersebut.

Virus Baru dari Kelelawar di Brasil

Penelitian yang dilakukan oleh Departemen Virologi Molekuler Universitas Osaka, Jepang, berhasil mendeteksi virus BRZ batCoV pada spesies kelelawar berjanggut yang banyak di Amerika Latin.

Analisis genetik menunjukkan bahwa virus ini memiliki situs pemotongan furin, fitur yang juga ditemukan pada SARS-CoV-2, yang memungkinkan virus tersebut masuk ke dalam sel manusia.

Kekhawatiran muncul terkait asal-usul SARS-CoV-2, dengan spekulasi bahwa virus itu mungkin direkayasa di laboratorium. Namun, penemuan BRZ batCoV ini menunjukkan kompleksitas dalam evolusi virus.

Baca juga: Calvin Verdonk Dekat Bergabung dengan Klub Prancis Lille

Fitur Molekuler dan Proses Alami

Dr. Kosuke Takada, salah satu penulis makalah tersebut, menjelaskan bahwa fitur molekuler serupa bisa muncul secara independen pada berbagai garis evolusi virus.

Artinya, virus bisa mengalami evolusi alami tanpa campur tangan manusia, yang menegaskan pentingnya pemahaman yang lebih dalam tentang evolusi virus.

Sejalan dengan itu, Prof. Stuart Neil dari King's College London menekankan bahwa ini bukan kali pertama ilmuwan menemukan situs pemotongan furin pada virus di luar SARS-CoV-2, jadi penelitian lebih lanjut sangat penting.

Implikasi Penemuan untuk Pengawasan Satwa Liar

Penemuan virus baru ini membuka peluang penting bagi pengawasan satwa liar di kawasan tersebut, di mana pengambilan sampel yang lebih luas diharapkan dapat mengidentifikasi virus-virus lain yang berpotensi menular ke manusia.

Prof. David Robertson dari University of Glasgow menegaskan bahwa munculnya situs pemotongan furin dalam virus corona bukan sesuatu yang mengejutkan, mengingat bagian genom virus ini dikenal fleksibel dan mudah beradaptasi.

Dengan meningkatkan penelitian dan pengawasan terhadap virus di satwa liar, langkah ini dapat menjadi strategi kunci dalam mencegah kemungkinan pandemi di masa depan.

Baca juga: Finfluencer: Solusi Modern untuk Memperbaiki Keadaan Finansial

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU