Senin, 10 NOVEMBER 2025 • 13:35 WIB

Keluarga Cendana Tanggapi Penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional

Author

Keluarga Cendana Tanggapi Penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional

Keluarga Cendana memberikan tanggapan menyusul penetapan Presiden ke-2 RI Soeharto sebagai pahlawan nasional pada 10 November 2025. Penetapan ini bersamaan dengan sembilan tokoh lain yang juga diakui jasa-jasanya.

Baca juga: Pemecatan Anggota Polri Terkait Kematian Ojol: Kompol Cosmas Dinyatakan Melanggar Etika

Siti Hardiyanti Rukmana atau yang lebih dikenal sebagai Tutut Soeharto, menegaskan bahwa masyarakat kini mampu menilai sejarah serta kontribusi Soeharto selama 32 tahun pemerintahannya.

Pro dan Kontra Penetapan Soeharto

Tutut Soeharto menilai bahwa masyarakat sekarang memiliki pemahaman yang lebih baik dalam menilai tindakan Soeharto. "Saya rasa rakyat sudah makin pintar, mas, apalagi wartawan, pintar-pintar kabeh, bisa melihat apa yang bapak lakukan, bisa menilai sendiri," ujarnya di Istana Kepresidenan Jakarta.

Menurutnya, pro dan kontra terhadap penetapan ini merupakan hal yang normal dalam kehidupan demokrasi. "Jadi boleh-boleh saja kok kontra tapi juga jangan ekstrem gitu, yang penting kita jaga kesatuan dan persatuan," tambahnya.

Tutut juga mengimbau kepada pihak-pihak yang tidak setuju agar tetap mempertimbangkan jasa yang telah diberikan Soeharto selama memimpin bangsa ini. Ia menekankan pentingnya memahami perjuangan Soeharto untuk kepentingan bangsa Indonesia.

Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Melanjutkan Perjalanan ke China Usai Kerusuhan

Penghargaan dan Rasa Syukur Keluarga

Dalam kesempatan ini, Tutut menyampaikan rasa syukur keluarga atas pengakuan yang diberikan pemerintah. Menurutnya, penghargaan ini bisa menjadi pengingat akan jasa-jasanya dalam membangun Indonesia.

Soeharto diakui sebagai pahlawan nasional bersamaan dengan sembilan tokoh lain, termasuk Abdurrahman Wahid dan Mochtar Kusumaatmadja. Penetapan ini menjadi momen penting dalam sejarah perpolitikan Indonesia.

Meski terdapat banyak pandangan negatif, Tutut tetap optimis bahwa penilaian objektif akan muncul dari masyarakat. Ia menegaskan bahwa pengakuan tersebut bukan sekadar gelar, melainkan pengakuan atas kontribusi Soeharto pada masa lalu.

Menyeimbangkan Pendapat dan Masyarakat Modern

Masyarakat modern diharapkan dapat memproses informasi dengan lebih kritis, khususnya mengenai sejarah pemerintahan masa lalu. Kesadaran akan peranan sejarah dalam konteks demokrasi menjadi kunci penting.

Di era informasi saat ini, warga tidak hanya berperan sebagai konsumen berita, tetapi juga sebagai evaluator kebijakan dan pemimpin. Hal ini sejalan dengan harapan Tutut bahwa masyarakat semakin cerdas.

Pro dan kontra terhadap isu ini adalah hal yang wajar, namun pemahaman mendalam tentang sejarah diharapkan dapat membuka ruang dialog yang konstruktif.

Baca juga: Presiden Prabowo Temui Pimpinan Serikat Pekerja Bahas Aksi Demonstrasi dan RUU

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU