Senin, 03 NOVEMBER 2025 • 11:41 WIB

Kritik Pedas untuk Komika Pandji Pragiwaksono Terkait Penampilan tentang Budaya Toraja

Author

Kritik Pedas untuk Komika Pandji Pragiwaksono Terkait Penampilan tentang Budaya Toraja

Komika Pandji Pragiwaksono mendapati dirinya dalam sorotan tajam setelah mengangkat budaya Toraja dalam penampilannya yang terbaru. Penggambaran tersebut telah memicu reaksi keras dari masyarakat Toraja yang merasa tersinggung.

Baca juga: Apple Siapkan Peluncuran iPhone 17 Series Tanpa Slot SIM Tray

Ketua Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI) Makassar, Amson Padolo, mengungkapkan bahwa ada dua poin utama dalam materi humor Pandji yang dianggap menyakiti masyarakat Toraja. Hal ini menimbulkan diskusi mengenai batasan humor dan sensitivitas terhadap budaya.

Reaksi dari Masyarakat Toraja

Amson Padolo menyampaikan, 'Kami sangat menyayangkan seorang tokoh publik berpendidikan seperti Pandji menjadikan adat Toraja sebagai bahan lelucon.' Ulasan tersebut muncul sebagai respon terhadap pernyataan Pandji yang menyebutkan masyarakat Toraja mengalami kemiskinan akibat pesta adat.

Kritikan tersebut mencuat dari dua hal yang disampaikan oleh Amson, dimana ia menegaskan, 'Ada dua hal yang membuat kami terluka.' Klaim ini berfokus pada prediksi kemiskinan yang disebabkan oleh tradisi serta informasi yang salah tentang penanganan jenazah.

Ketidakpuasan ini menciptakan percikan perdebatan yang lebih luas mengenai apa yang seharusnya menjadi batasan dalam humor, terutama ketika menyangkut budaya yang sensitif.

Baca juga: Manchester United dan Manchester City Cari Kiper Baru Menjelang Bursa Transfer

Makna Rambu Solo dalam Budaya Toraja

Rambu Solo bukanlah sekadar pesta, melainkan sebuah tradisi penghormatan terakhir terhadap orang yang telah meninggal. Amson menjelaskan bahwa prosesi ini merepresentasikan nilai-nilai kekerabatan, gotong royong, dan kasih sayang di antara komunitas Toraja.

Sembari melanjutkan penjelasannya, Amson menekankan, 'Esensi Rambu Solo itu penghormatan kepada orang tua atau kerabat yang telah meninggal.' Menurutnya, upacara ini juga merupakan cerminan akulturasi antara ajaran Aluk Todolo dan prinsip-prinsip kekristenan.

Pemahaman yang keliru tentang Rambu Solo dapat menyebabkan stereotip yang merugikan dan mengaburkan makna sebenarnya dari tradisi ini di mata masyarakat luas.

Tuntutan Permintaan Maaf dan Tanggung Jawab Publik

Amson Padolo menekankan bahwa seorang tokoh publik seperti Pandji seharusnya memahami konteks budaya sebelum mengeluarkan candaan yang bisa menyakiti. Tanggung jawab moral ini dianggap penting agar komunikasi mengenai budaya dilakukan dengan lebih hati-hati.

Dalam pernyataan yang tegas, ia mengatakan, 'Kami menuntut Pandji meminta maaf secara terbuka.' Hal ini ditekankan bukan hanya untuk kepentingan satu suku, tetapi sebagai pembelajaran bagi semua untuk lebih sensitif dalam menangani isu-isu budaya, bahkan dalam konteks humor.

Pernyataan ini memicu dialog yang lebih luas tentang tanggung jawab yang diemban oleh publik figur dalam menyajikan materi yang berhubungan dengan nilai-nilai masyarakat.

Baca juga: Sherina Munaf Selamatkan Kucing dari Rumah Uya Kuya Pasca Insiden Perampokan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU