Dalam era digital saat ini, estetika menjadi nilai penting di kalangan anak muda, dengan banyak dari mereka berusaha memenuhi standar kecantikan yang dianggap ideal meskipun sering kali mengorbankan keunikan diri mereka sendiri.
Baca juga: Kericuhan Memanas di Bandung: Penjelasan Terkait Insiden Gas Air Mata
Fenomena tersebut tidak hanya mempengaruhi penampilan, tetapi juga cara berpikir dan interaksi di platform media sosial, memunculkan pertanyaan apakah kecantikan harus seragam agar diterima di masyarakat.
Perkembangan Estetika di Kalangan Anak Muda
Sejak munculnya media sosial, konsep estetika telah mengalami perubahan signifikan. Platform seperti Instagram dan TikTok menjadi media bagi anak muda untuk mengekspresikan diri, tetapi juga menciptakan standar kecantikan yang tidak realistis.
Standar ini sering kali terpengaruh oleh influencer dan selebritas yang memiliki pengikut besar. Dalam sebuah studi, ditemukan bahwa 70% anak muda merasa tertekan untuk memenuhi ekspektasi kecantikan yang ditetapkan oleh media sosial.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer yang Mengejutkan
Dampak Obsesif terhadap Kecantikan
Obsesi terhadap estetika dapat berujung pada dampak psikologis yang serius, termasuk kecemasan dan depresi. Menurut lembaga kesehatan mental, 40% remaja menunjukkan tanda-tanda depresi ketika merasa tidak memenuhi standar kecantikan yang berlaku.
Tekanan untuk tampil sempurna juga sering mengarah kepada perilaku berisiko, seperti penggunaan produk pemutih kulit yang tidak aman. Dalam konteks ini, orang tua dan pendidik diharapkan bisa memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai arti keindahan yang luas dan tidak terikat pada satu standar sempit.
Mendorong Keberagaman dalam Estetika
Dari sisi industri mode dan kecantikan, terdapat peningkatan upaya dalam memperkenalkan keberagaman dalam pemasaran. Kampanye yang merayakan berbagai wajah, bentuk tubuh, dan warna kulit mulai menunjukkan hasil positif di pasar.
Sebagai contoh, banyak merek kini menampilkan model dengan berbagai ukuran dan warna, membuktikan bahwa kecantikan tidak harus seragam. Seorang pakar pemasaran menjelaskan bahwa 'Konsumen saat ini lebih cenderung berbelanja pada merek yang berdiri di atas nilai keberagaman.'
Baca juga: Menjelajahi Lima Kota Ramah untuk Liburan Sendirian di Indonesia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: