Satelit hasil kolaborasi NASA dan ISRO, NISAR, telah mengirimkan gambar radar pertama permukaan Bumi, menandai langkah maju dalam riset tentang perubahan iklim.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China: Merayakan 80 Tahun Kemenangan Perang
Misi ini dirancang untuk mempelajari interaksi kompleks antara daratan, vegetasi, dan es dengan menggunakan teknologi radar canggih yang belum pernah ada sebelumnya.
Gambar Pertama: Dari Amerika ke Dunia
NISAR diluncurkan oleh ISRO pada 30 Juli dan berhasil memotret Pulau Mount Desert di Maine, AS. Sistem radar L-band ini mampu menangkap detail visual penting, termasuk perairan, hutan, dan area tanah terbuka.
Beberapa hari setelah peluncuran, radar yang sama berhasil memotret North Dakota, menunjukkan area pertanian dan lahan basah dengan ketelitian yang sangat tinggi. Teknologi pemantauan ini menjadi alat penting untuk mengamati perubahan dalam tutupan lahan, pertumbuhan tanaman, dan kondisi hutan.
Dengan kemampuan mendeteksi objek sekecil lima meter, radar ini memiliki peran krusial dalam memahami dampak perubahan iklim dan ketahanan pangan global.
Baca juga: Kemenperin Belum Menerima Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia
Radar Ganda Canggih
NISAR adalah satelit pertama yang dilengkapi dengan dua radar aktif berbeda: L-band dari NASA dan S-band dari ISRO. L-band menawarkan kemampuan untuk memantau pergerakan tanah dengan akurasi hingga milimeter, sedangkan S-band lebih fokus pada pemantauan vegetasi kecil.
Kombinasi kedua radar ini memungkinkan NISAR untuk memindai seluruh permukaan darat dan es Bumi dua kali setiap 12 hari. Antena berdiameter 12 meter membuatnya menjadi antena terbesar yang dikirim NASA ke luar angkasa.
Teknologi ini sangat penting dalam mengumpulkan data yang akan memperkaya pemahaman ilmiah serta menjadi dasar pengambilan keputusan terkait perubahan iklim.
Menuju Operasi Penuh
Saat ini, satelit NISAR berada di orbit setinggi 747 kilometer dan dijadwalkan untuk mulai beroperasi penuh pada November tahun ini. Data yang dikumpulkan diharapkan dapat membantu ilmuwan dalam memahami evolusi Bumi dari waktu ke waktu.
Nicky Fox, Associate Administrator Science Mission Directorate NASA, mengungkapkan, "Gambar awal ini baru pembuka dari data luar biasa yang akan dihasilkan NISAR."
Ia menambahkan bahwa sains di balik NISAR akan memberikan gambaran yang jelas tentang perubahan yang terjadi di daratan dan lapisan es, serta menjadi landasan bagi pengambil kebijakan dalam menghadapi bencana alam.
Baca juga: Pemeriksaan Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: