Senin, 13 OKTOBER 2025 • 14:37 WIB

Meninggalnya Angga: Kasus Perundungan di Sekolah Memicu Penyelidikan

Author

Meninggalnya Angga: Kasus Perundungan di Sekolah Memicu Penyelidikan

Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Geyer-Grobogan, Sukatno, mengonfirmasi bahwa kasus meninggalnya siswa Angga Bagus Perwira (12) telah diserahkan kepada pihak berwenang.

Baca juga: Kemenperin Belum Menerima Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia

Angga ditemukan tidak bernyawa di ruang kelas VII G pada Sabtu (11/10/2025), dan diduga menjadi korban perundungan oleh teman-temannya.

Kronologi Kejadian

Angga ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa setelah terlibat dua kali perkelahian dengan teman sekelasnya. Temannya, APR (12), menjelaskan bahwa perkelahian terjadi pada jam ketiga pelajaran di mana tidak ada guru yang hadir.

“Awal mulanya Angga diejek teman-temannya, lalu Angga tidak terima dan berkelahi. Angga dipukuli kepalanya dan kemudian berhenti,” ungkap APR saat ditemui di rumah duka.

Setelah perkelahian tersebut, Angga mengalami kejang-kejang dan dilarikan ke UKS, namun nyawanya tidak tertolong.

Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Jadi Warga Negara Indonesia

Respons Keluarga dan Masyarakat

Keluarga Angga merasa sangat terkejut dengan kabar kematiannya. Sawendra dan Ike Purwitasari, orang tua Angga, segera pulang dari Cianjur, Jawa Barat, setelah menerima berita duka tersebut.

Paman Angga, Suwarlan, menjelaskan bahwa mereka pertama kali mendapat informasi mengenai perundungan yang dialami Angga dari teman-teman sekelasnya. “Kata teman-teman sekolahnya, diduga korban bullying,” ujarnya.

Jenazah Angga dimakamkan pada Minggu pagi dan dihadiri oleh banyak pelayat. Keluarga berharap agar penyebab kematian Angga dapat diusut secara menyeluruh.

Penyelidikan dan Tuntutan Keluarga

Jenazah Angga telah dibawa ke puskesmas terdekat dan dirujuk ke RSUD Dr. R. Soedjati Soemodiardjo untuk dilakukan otopsi. Keluarga menuntut agar kasus ini diselidiki dan penyebab kematian Angga diklarifikasi.

Pujiyo, kakek Angga, menyampaikan bahwa cucunya sering mengeluh tentang perundungan yang dialaminya di sekolah. “Pernah sakit juga di kepala karena dipukuli dan tidak masuk sekolah,” ungkap Pujiyo.

Ia juga meminta agar pihak sekolah lebih memperhatikan keadaan anak-anak mereka dan mengambil tindakan preventif supaya kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

Baca juga: Mencintai Diri Sendiri: Pentingnya Self Love dalam Kehidupan Sehari-hari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU