Tragedi Ambruknya Gedung Pondok Pesantren Al Khoziny: Keluarga Korban Mendukung Penyelidikan Hukum
Empat santri tewas dalam tragedi ambruknya gedung Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, pada 29 September lalu.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Jadi Warga Negara Indonesia
Keluarga korban mendesak pihak berwenang untuk melakukan penyelidikan mendalam dan menuntut pertanggungjawaban hukum terkait insiden yang mengakibatkan kehilangan nyawa ini.
Kronologi Kejadian dan Dampak Bencana
Tragedi ambruknya gedung tersebut terjadi pada hari Jumat, 29 September. Empat santri dilaporkan meninggal dunia dalam insiden ini, meskipun ada yang selamat, beruntung tidak berada di area yang terdampak.
Fauzi, paman dari empat korban, menekankan pentingnya keselamatan dan kualitas bangunan dalam pesantren. Ia berkonsultasi dengan ahli yang menyatakan bahwa kondisi konstruksi gedung tidak memenuhi standar yang diperlukan.
Fauzi turut mengungkapkan, 'Kalau memang di situ ada human error atau kelalaian manusia dalam hal pembangunan, ya harus diproses.' Ini menunjukkan ketidakpuasan keluarga terhadap hasil pembangunan yang mereka anggap tidak layak.
Baca juga: Deddy Mahendra Desta Dukung Tuntutan 17+8 di Tengah Kontroversi
Permintaan Pertanggungjawaban Hukum
Keluarga korban juga menuntut pertanggungjawaban hukum bagi semua pihak terkait, termasuk pengurus pondok dan kiai. Fauzi berpendapat bahwa dalam hukum, 'tidak ada yang kebal,' merujuk pada siapa saja yang harus bertanggung jawab atas insiden ini.
Ia juga membuktikan adanya dugaan eksploitasi anak, di mana santri terlibat dalam pembangunan gedung. 'Nanti bukan tidak mungkin ada eksploitasi anak di sana,' katanya, mengingatkan bahwa hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu.
Fauzi berharap agar kasus ini bisa menjadi pelajaran berharga. Ia menegaskan, 'Hukum harus ditegakkan, supaya ke depan adik-adik kita bisa belajar dengan aman.'
Tanggapan Keluarga Korban Lainnya
Muhammad Ma'ruf, ayah dari salah satu santri berusia 13 tahun yang tewas, menerima kejadian ini sebagai takdir. 'Kami nitipkan di pondok ini dengan tujuan agar anak kami kenal dengan Tuhannya,' ungkap Ma'ruf.
Sementara itu, KH Abdus Salam Mujib, pengasuh Pondok Pesantren Al Khoziny, menyatakan bahwa peristiwa tragis ini adalah bagian dari takdir Tuhan. 'Ya saya kira ini takdir dari Allah, jadi semuanya harus bisa bersabar,' ujarnya, meminta semua pihak menjalani situasi ini dengan sabar.
Mujib juga berharap agar pengorbanan para korban mendapatkan balasan yang baik dari Allah SWT. 'Diberi pahala yang sangat-sangat, apa ya, nggak bisa mengutarakan dan mudah-mudahan dibalas kebaikan oleh Allah SWT yang lebih dari musibah ini,' tutupnya.
Baca juga: Kerusuhan di Bandung Berujung Penembakan Gas Air Mata oleh Pengamanan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: