Senin, 16 JUNI 2025 • 04:21 WIB

Kritik dan Klarifikasi Fadli Zon terkait Perkosaaan Massal 1998

Author

Menteri Kebudayaan Fadli Zon baru-baru ini menghadapi kritik tajam dari berbagai aktivis terkait pernyataannya mengenai pemerkosaan massal tahun 1998. Banyak pihak mendesak Fadli untuk meminta maaf atas pernyataannya yang dinilai keliru dan merugikan.

Menanggapi hal tersebut, Fadli Zon memberikan klarifikasi yang menekankan pentingnya ketelitian dalam membahas peristiwa sejarah. Ia juga menyatakan bahwa dialog konstruktif diperlukan untuk memahami isu-isu terkait kekerasan di masa lalu.

Kritik Terhadap Pernyataan Fadli Zon

Pernyataan Fadli Zon mengenai pemerkosaan massal 1998 telah disanggah oleh sejumlah aktivis perempuan. Aktivis Ita Fatia Nadia menegaskan bahwa fakta mengenai pemerkosaan massal tersebut sudah tercatat dalam sejarah Indonesia.

“Pada pergolakan politik bulan Mei 1998, terjadi perkosaan massal terhadap sejumlah perempuan Tionghoa di Jakarta, di Medan, di Palembang, di Surabaya, dan Solo,” paparnya dalam sebuah konferensi pers.

Kamala Chandrakirana, mantan Ketua Komnas Perempuan, juga mengkritik pernyataan Fadli Zon, menganggapnya menunjukkan penyangkalan pemerintah terkait fakta sejarah. “Pernyataan ini menunjukkan bahwa Menteri kita adalah bagian dari budaya penyangkalan yang ternyata masih ada di jajaran tertinggi pemerintahan kita,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid, memberikan dukungan terhadap kritik tersebut, menyatakan bahwa pernyataan Fadli Zon tidak sejalan dengan fakta yang terjadi.

Penjelasan Fadli Zon

Menanggapi kritik itu, Fadli Zon mengapresiasi perhatian publik terhadap sejarah, khususnya peristiwa Mei 1998. Ia menekankan bahwa penting untuk berpegang pada bukti yang telah teruji secara hukum dan akademis, mencerminkan praktik historiografi yang baik.

“Penting untuk senantiasa berpegang pada bukti yang teruji secara hukum dan akademik, sebagaimana lazim dalam praktik historiografi,” jelasnya.

Fadli Zon juga membahas bahwa istilah ‘perkosaan massal’ membawa banyak perdebatan dan oleh karenanya perlu sikap hati-hati. Ia menyampaikan bahwa laporan TGPF tidak menyertakan data pendukung solid, yang menjadi dasar kehati-hatiannya dalam merespons isu ini.

“Saya tentu mengutuk dan mengecam keras berbagai bentuk perundungan dan kekerasan seksual pada perempuan yang terjadi pada masa lalu dan bahkan masih terjadi hingga kini,” tambahnya, menegaskan bahwa pernyataannya tidak mengingkari kekerasan tersebut.

Pentingnya Dialog Sejarah

Fadli Zon juga menekankan bahwa sejarah bukan semata-mata kisah masa lalu, melainkan tanggung jawab bersama di masa kini. Ia mengajak masyarakat untuk membangun narasi sejarah yang berkeadilan dan reflektif.

“Prinsip keterbukaan, partisipasi publik, profesionalisme dan akuntabilitas tentu tetap menjadi dasar penyusunan sejarah,” serunya, menekankan pentingnya masukan dari berbagai komunitas.

Lebih jauh, Fadli menngajak semua pihak untuk mendiskusikan pelajaran dari peristiwa sejarah, termasuk mengakui peran perempuan dalam perjuangan bangsa. Dengan dialog terbuka, ia berharap semua pihak dapat saling memahami dan membangun kesadaran terhadap isu-isu penting.

“Saya berharap, dengan dialog yang terbuka, semua pihak dapat saling memahami pandangan dan membangun kesadaran mengenai isu-isu penting yang menyentuh harkat dan martabat manusia,” tuturnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU