Selasa, 01 JULI 2025 • 04:42 WIB

Peningkatan Ancaman Penyakit Tular Vektor: Webinar BRIN Soroti Pentingnya Riset dan Keterlibatan Masyarakat

Author

Generated by Journalist AI

Penyakit yang ditularkan melalui vektor kini menjadi ancaman serius bagi kesehatan global, dengan lebih dari 700.000 kematian setiap tahun. Penyebaran penyakit ini dipercepat oleh faktor urbanisasi, mobilitas manusia, dan perubahan iklim yang signifikan.

Pada kesempatan ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengadakan webinar bertajuk ‘Update Penyakit Tular Vektor; Berpotensi Menjadi Pandemi Berikutnya’ untuk membahas dan mencari solusi dalam menghadapi masalah ini. Para ahli menekankan pentingnya riset dan inovasi untuk mengendalikan penyakit tular vektor yang terus meningkat.

Ancaman Penyakit Tular Vektor dan Penyebabnya

Penyakit yang ditularkan melalui vektor seperti nyamuk menyumbang lebih dari 17% dari seluruh penyakit menular di dunia. Para ahli menyatakan bahwa perubahan iklim dan urbanisasi yang tidak terencana menjadi faktor pendorong utama penyebaran penyakit ini.

Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, NLP Indi Dharmayanti, menegaskan pentingnya riset untuk menghadapi risiko yang ditimbulkan oleh faktor-faktor tersebut. “Faktor-faktor tersebut menciptakan peningkatan insiden dan potensi penyebaran pandemi penyakit tular vektor,” ungkapnya.

Selain itu, resistensi vektor terhadap insektisida menambah kompleksitas dalam pengendalian penyakit. Dalam konteks ini, ketidakadaan strategi yang tepat dapat mengakibatkan situasi kesehatan yang lebih serius.

Pentingnya Riset dan Keterlibatan Masyarakat

Elisabeth Farah Novita Coutrier, Kepala Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman BRIN, menggarisbawahi pentingnya upaya pencegahan dalam melawan penyebaran vektor penyakit. “Mobilitas penduduk, perubahan lingkungan akibat urbanisasi, serta pemanasan global memperluas distribusi nyamuk pembawa penyakit,” ujarnya.

Farah juga menekankan bahwa keterlibatan aktif masyarakat merupakan kunci dalam program pengendalian penyakit. “Keberhasilan pengendalian penyakit tular vektor sangat bergantung pada sinergi lintas sektor dan kesadaran masyarakat,” imbuhnya.

Lebih lanjut, data dan surveilans yang akurat sangat penting untuk mendukung kebijakan pengendalian yang efektif dan adaptif, guna menghadapi berbagai tantangan yang ada.

Kajian Terhadap Vektor dan Penyakit Tular

Triwibowo Ambar Garjito, seorang peneliti ahli utama, menjelaskan bahwa arbovirus seperti dengue dan malaria menjadi perhatian global saat ini. “Nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus menjadi vektor utama. Keberadaan dan penyebarannya yang meluas menjadikan arbovirus sebagai ancaman serius,” sebutnya.

Triwibowo juga menekankan perlunya penguatan riset lokal sebagai langkah strategis. “Indonesia memiliki lebih dari 900 spesies Aedes, dan kita perlu surveilans dan riset intensif untuk menentukan strategi intervensi yang tepat,” tegasnya.

Ismail Ekoprayitno Rozi, peneliti madya dari BRIN, mengingatkan bahwa malaria adalah penyakit menular dengan jumlah kematian tertinggi di dunia, terutama di Tanah Papua. “Sebanyak 93% kasus malaria di Indonesia tercatat berasal dari Tanah Papua,” kata Ismail.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

TERPOPULER
BERITA TERBARU