Prabowo Soroti Transparansi Audit di BUMN dan Anak Perusahaan
Presiden Prabowo Subianto mengekspresikan kegelisahan terkait aturan audit yang berlaku bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) namun tidak untuk anak dan cucu perusahaan. Pernyataan ini diungkapkannya saat menghadiri acara HUT ke-1 Danantara di Jakarta Selatan.
Baca juga: Kemenperin Belum Menerima Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia
Prabowo menyampaikan bahwa banyak pembentukan BUMN yang dulunya bertujuan mulia kini mengalami pergeseran dari niat awal yang baik.
Prabowo Subianto menjelaskan bahwa BUMN didirikan sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan strategis bangsa setelah kemerdekaan Indonesia. Dia mencontohkan, saat sektor tekstil kurang berkembang, pemerintah mendirikan Patal Senayan sebagai langkah awal.
Di samping itu, ketika kebutuhan kertas untuk pendidikan muncul, pemerintah turut mendirikan pabrik kertas. Langkah-langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menyediakan kebutuhan dasar masyarakat.
"Tidak punya obat waktu merdeka, negara mendirikan perusahaan-perusahaan farma," ungkap Prabowo, mencerminkan fokus awal yang diutamakan pada vitalitas kesehatan dan pendidikan.
Baca juga: Staf KBRI Lima, Zetro Leonardo Purba, Meninggal Dunia Akibat Penembakan
Menurut Prabowo, perkembangan BUMN seharusnya sejalan dengan niat awal pendirian, namun kenyataan justru menunjukkan sebaliknya. Ia mengkritik kompleksitas struktur perusahaan yang berkembang akibat munculnya banyak anak dan cucu perusahaan.
Contohnya, Prabowo mengungkapkan kegusaran ketika mengetahui bahwa Pertamina memiliki lebih dari 200 anak dan cucu perusahaan. "Saya kaget, Pertamina punya 200 anak dan cucu perusahaan," ujarnya.
Pernyataan ini mengundang pertanyaan mengenai efisiensi manajemen dan pengelolaan sumber daya di tubuh BUMN, yang diharapkan seharusnya lebih fokus pada tujuan awalnya.
Prabowo mencermati adanya aturan yang ia anggap aneh terkait audit yang berlaku bagi BUMN, namun tidak untuk anak perusahaannya. "Peraturan dari mana ini?" tanyanya, mempertanyakan landasan hukum yang ada.
Ia menyatakan bahwa batasan ini menciptakan celah yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu, dan mendesak perlunya peninjauan kembali terhadap kebijakan tersebut.
"Konsolidasi, satu manajemen dengan rasional, dengan standar-standar terbaik dunia, return on asset saya terima di atas 300%. Ini masih jauh dari sasaran kita," tutup Prabowo, menunjukkan optimisme sekaligus tantangan yang ada.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool, Bursa Transfer Musim Panas Berakhir
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: