Transformasi Deteksi Kanker dengan AI: Solusi Cepat dan Akurat
Kemajuan teknologi Artificial Intelligence (AI) kini memasuki sektor medis dengan menawarkan cara baru dan efisien dalam mendeteksi kanker. Melalui kolaborasi Siloam dan AstraZeneca, hadir perangkat lunak canggih bernama Qure.ai yang diharapkan dapat meningkatkan akurasi deteksi kanker di Indonesia.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Ukir Rekor Baru dengan Transfer Alexander Isak
Data dari Global Cancer Observatory menunjukkan bahwa kanker payudara dan paru-paru merupakan masalah kesehatan serius di tanah air. Dengan AI, diharapkan angka kematian akibat kedua jenis kanker ini dapat berkurang secara signifikan.
Kolaborasi antara Siloam dan AstraZeneca mengedepankan teknologi dalam mengurangi prevalensi kanker di Indonesia. Kanker payudara tercatat menyebabkan lebih dari 22 ribu kematian di Indonesia pada tahun 2020, menurut data Global Cancer Observatory.
Selain kanker payudara, kanker paru-paru juga menjadi sorotan dengan tingkat kasus baru yang sangat tinggi. Dengan mengintegrasikan teknologi canggih ini, kedua pihak berharap dapat meningkatkan efektivitas deteksi dini kanker.
Esra Erkomay, Country President AstraZeneca Indonesia, menyatakan, "Deteksi kanker pada tahap lebih awal tidak hanya meningkatkan angka kelangsungan hidup, tetapi juga mengurangi kompleksitas pengobatan."
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan Rumah Ahmad Sahroni: Polisi Kembali Barang yang Hilang
Sistem AI berperan penting dalam proses klasifikasi HER2, yang sangat krusial dalam menentukan pilihan pengobatan kanker payudara. Klasifikasi tersebut mencakup kategori HER2 negatif, rendah, ultra-rendah, dan positif.
Dokter spesialis penyakit dalam, Dr. Jeffry Beta Tenggara, menjelaskan pentingnya klasifikasi HER2 dalam pengambilan keputusan terapi yang lebih tepat dan cepat. Data dari American Society of Clinical Oncology (ASCO) menunjukkan bahwa akurasi AI dalam mendeteksi kanker payudara mencapai sekitar 92 persen.
Ketersediaan data akurat ini diharapkan dapat membantu dokter dalam menentukan langkah pengobatan yang paling efektif bagi pasien.
Selain kanker payudara, solusi AI juga dikembangkan untuk mendiagnosis kanker paru-paru, di mana nodul atau benjolan dalam jaringan paru bisa menjadi indikasi serius. Proses diagnosis ini biasanya melibatkan analisis CT scan untuk mengidentifikasi adanya nodul.
Namun, tantangan dalam proses ini adalah nodul yang mungkin tertutup oleh struktur lain, sehingga menyulitkan identifikasi. Dalam hal ini, AI dapat berfungsi untuk mempermudah proses tersebut.
Dr. Dewi Tantra Hardiyanto, seorang dokter spesialis radiologi, menegaskan bahwa "AI ini membantu mengidentifikasi pemeriksaan yang kemungkinan normal atau tidak, jadi radiologi dapat mempercepat waktu dan lebih fokus pada kasus-kasus yang abnormal."
Baca juga: Sherina Munaf Selamatkan Kucing dari Rumah Uya Kuya Pasca Insiden Perampokan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: