Konflik Meningkat: Rusia Kecam Tindakan Militer AS di Iran
Ketegangan global kini memasuki titik kritis usai Rusia mengecam tindakan militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran.
Baca juga: Penghentian Tunjangan Perumahan Anggota DPR: Komitmen Terhadap Transparansi Anggaran
Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, menilai tindakan tersebut mencerminkan kegagalan diplomasi di tangan AS.
Dmitry Medvedev menuduh Washington telah menunjukan 'wajah asli' mereka melalui serangan udara yang berlangsung pada 28 Februari 2026.
Ia menjelaskan bahwa semua negosiasi dengan Iran tampaknya hanya sebagai formalitas, tanpa niat tulus dari AS untuk mencapai resolusi damai.
Tindakan militer ini dipandang sebagai puncak dari strategi 'tekanan maksimum' yang kembali diperkenalkan oleh Presiden AS Donald Trump.
Baca juga: Sidang Etik Terkait Kematian Pengemudi Ojek Online: Tindakan Berat di Lingkungan Polri
Trump kritik pemerintah sebelumnya yang dianggap terlalu lunak, memberi Iran waktu untuk memperkuat program nuklirnya.
Dalam pernyataannya, Trump menyatakan, "Waktu untuk berdebat sudah habis. Iran telah mengabaikan setiap kesempatan untuk perdamaian..."
Setelah serangan tersebut, Pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC) merespons dengan melancarkan serangan terhadap aset AS di wilayah Timur Tengah.
Di Abu Dhabi, suara ledakan keras terdengar, yang menyebabkan otoritas menutup sebagian ruang udara untuk keperluan darurat.
Kuwait juga melaporkan aktivasi sistem pertahanan udara dan penutupan total ruang udara untuk penerbangan sipil.
Baca juga: Kunto Aji Serukan Tanggung Jawab Anggota DPR dan Kesadaran Masyarakat
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: