Kurma Israel dalam Sorotan: Dugaan Praktik Penjualan yang Disamarkan di Pasar Global
Pasar kurma global kini menarik perhatian terkait dengan dugaan praktik penjualan kurma Israel yang menggunakan label palsu. Kasus ini menunjukkan bahwa produk dari permukiman di Tepi Barat berpotensi masuk ke Uni Eropa melalui jalur yang tidak transparan.
Baca juga: Kunto Aji Serukan Tanggung Jawab Anggota DPR dan Kesadaran Masyarakat
Praktik yang dikenal sebagai date laundering ini dapat berisiko melanggar regulasi pelabelan yang berlaku di Uni Eropa. Dengan nilai pasar diperkirakan mencapai US$34,5 miliar pada 2026, isu ini menjadi semakin relevan.
Pertumbuhan pasar kurma global semakin pesat, dengan estimasi nilai yang mencapai US$32,7 miliar pada tahun 2025. Meningkatnya permintaan di Timur Tengah dan Afrika, yang menguasai lebih dari 85% pangsa pasar, menjadi salah satu faktor kunci.
Mesir masih mendominasi produksi kurma mundial dengan lebih dari 1,7 juta ton per tahun. Sementara itu, Israel bermain dalam eksporter kurma premium, seperti Medjool, meski produksinya jauh lebih sedikit dibandingkan negara lain.
Baca juga: Universitas Islam Bandung dan Universitas Pasundan Bantah Keterlibatan TNI-Polri di Kericuhan
Sekitar 35.000 ton kurma diekspor Israel setiap tahunnya, namun hanya 8.800 ton berasal dari wilayah yang diakui secara internasional. Ini menimbulkan pertanyaan mengenai transparansi mengenai asal produk kurma yang berasal dari permukiman ilegal.
Badan Uni Eropa menegaskan bahwa produk dari permukiman tersebut harus mencantumkan asal dengan jelas. Meningkatnya kesadaran konsumen di Eropa soal sumber etis memberikan tekanan lebih bagi produsen untuk mengikuti regulasi ini.
Di tengah konflik yang berlanjut di Gaza, kampanye boikot terhadap produk Israel mendapatkan momentum, terutama di Eropa. Beberapa retailer seperti Co-op di Inggris mulai menghentikan pengadaan produk dari Israel sebagai respons terhadap hal ini.
Situasi ini memberikan tantangan bagi sektor pertanian Israel, yang menghadapi gangguan logistik serta dampak ekonomi dari boikot global, meskipun permintaan kurma tetap tinggi menjelang bulan Ramadan.
Baca juga: Lari Malam: Manfaat, Tantangan, dan Tips Keamanan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: