Mengatasi Risiko Gangguan Jantung Melalui Perubahan Gaya Hidup
Kebiasaan sehari-hari yang tampak sepele bisa berpotensi mengganggu kesehatan jantung seseorang. Hal ini terkait semakin maraknya gangguan irama jantung, yang dikenal dengan istilah Atrial fibrilasi.
Baca juga: Mencintai Diri Sendiri: Pentingnya Self Love dalam Kehidupan Sehari-hari
Dokter spesialis jantung menyoroti pentingnya melakukan perubahan gaya hidup untuk mencegah risiko ini, terutama di tengah pola hidup modern yang semakin lazim di masyarakat Indonesia.
Atrial fibrilasi adalah salah satu bentuk aritmia yang paling umum dan dapat mengganggu fungsi jantung. Menurut dokter spesialis jantung dari Eka Hospital, Ignatius Yansen, gangguan ini membuat detak jantung menjadi tidak teratur.
Jantung biasanya memiliki sistem kelistrikan yang menjaga detak tetap stabil, namun faktor-faktor seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dan obesitas berperan dalam merusak sistem tersebut. Hal ini meningkatkan risiko terjadinya atrial fibrilasi.
Ignatius juga mengungkapkan bahwa risiko atrial fibrilasi meningkat seiring bertambahnya usia. Pada orang berusia di atas 80 tahun, angka kejadian kondisi ini bisa mencapai 15-20 persen.
Baca juga: Penangkapan ‘Profesor R’ Terkait Aksi Demo Ricuh di Jakarta
Pengelolaan atrial fibrilasi tidak hanya bergantung pada pengobatan medis, tetapi juga memerlukan pendekatan untuk mengelola faktor risiko. Pasien dengan diabetes disarankan untuk menjaga kadar gula darah tetap stabil.
Bagi yang menderita hipertensi, disiplin dalam mengontrol tekanan darah sangat penting, sedangkan individu dengan obesitas perlu menurunkan berat badan secara bertahap. Masalah seperti gangguan tidur, termasuk sleep apnea, juga perlu mendapatkan perhatian khusus.
Ignatius menekankan bahwa 'Tata laksana pertama dari atrial fibrilasi adalah kita harus menangani faktor risikonya.' Dengan pendekatan yang tepat, risiko komplikasi bisa diminimalkan.
Gangguan irama jantung sering kali tidak menunjukkan gejala yang mencolok, sehingga banyak yang mengabaikannya. Tanda-tanda seperti jantung berdebar, mudah lelah, dan napas terasa pendek saat beraktivitas sering tidak dihiraukan.
Namun, jika tidak ditangani, bisa meningkatkan risiko komplikasi serius, seperti stroke dan gagal jantung. Oleh karena itu, perubahan gaya hidup menjadi sangat penting.
Sebagaimana ditegaskan oleh Ignatius, 'Mengurangi konsumsi alkohol, berhenti merokok, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, serta mengontrol tekanan darah dan gula darah bukan sekadar saran umum melainkan langkah nyata untuk melindungi 'baterai' alami jantung.'
Baca juga: Kerusuhan di Bandung Berujung Penembakan Gas Air Mata oleh Pengamanan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: