Keputusan Tegas Keir Starmer: Tak Mundur Meski Diterpa Krisis
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menegaskan tidak akan mundur dari jabatannya meski di tengah krisis pemerintahan menyusul pengunduran diri kepala staf dan juru bicaranya.
Baca juga: Deddy Mahendra Desta Dukung Tuntutan 17+8 di Tengah Kontroversi
Dalam pernyataan di parlemen, Starmer menyatakan komitmennya untuk terus berjuang demi perbaikan negara.
Starmer menghadapi kritik tajam setelah terungkapnya hubungan mantan menteri Peter Mandelson dengan pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein. Kontroversi ini berakibat pada pengunduran diri kepala stafnya, Morgan McSweeney, dan direktur komunikasi, Tim Allan.
Mandelson, yang merupakan anggota Partai Buruh, telah mundur dari House of Lords dan partai setelah skandal ini mencemari nama baik Partai Buruh. Kejadian ini muncul di tengah tantangan besar yang harus dihadapi Starmer.
Dalam pernyataannya, McSweeney mengakui bahwa keputusan untuk menunjuk Mandelson sebagai duta besar Inggris untuk Amerika Serikat adalah 'salah'. Sementara itu, Allan mengungkapkan keinginannya untuk memberi ruang bagi tim baru untuk membangun kembali kepercayaan.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan Rumah Ahmad Sahroni: Polisi Kembali Barang yang Hilang
Dalam sesi parlemen yang penuh ketegangan, Starmer menegaskan komitmennya untuk tidak menyerah. Ia percaya bahwa tantangan yang dihadapinya adalah bagian dari perjuangan untuk mengubah Inggris menjadi lebih baik.
'Saya selalu menghadapi para pengkritik di setiap langkah, bahkan sampai hari ini. Para pengkritik yang sama sekali tidak menginginkan pemerintahan Partai Buruh,' kata Starmer seperti dikutip dari The Guardian.
Starmer menambahkan, 'Saya tidak siap untuk meninggalkan mandat dan tanggung jawab saya kepada negara, atau untuk menjerumuskan kita ke dalam kekacauan, seperti yang telah dilakukan orang lain.'
Di tengah situasi yang menegangkan, pemimpin Partai Buruh Skotlandia, Anas Sarwar, mendesak Starmer untuk mundur, menilai bahwa kebijakan Starmer mengakibatkan turunnya dukungan publik di Skotlandia. Suara yang bersikap kritis tersebut menambah beban bagi Starmer.
Namun, setelah pidato Starmer di parlemen, muncul gelombang dukungan dari berbagai tokoh dan pejabat. Jajak pendapat menunjukkan perubahan suasana hati di antara anggota parlemen, dengan harapan akan pemulihan di masa mendatang.
Berbagai tokoh partai mulai kembali mengekspresikan dukungan mereka untuk pemerintahan Starmer, menunjukkan bahwa meskipun ada kritik, tetap ada keyakinan untuk melanjutkan kepemimpinan yang ada.
Baca juga: Staf KBRI Lima, Zetro Leonardo Purba, Meninggal Dunia Akibat Penembakan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: