BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Senin, 09 FEBRUARI 2026 • 14:15 WIB

Peningkatan Pengawasan Virus Nipah di Bandara-Bandara Asia Pasifik

Peningkatan Pengawasan Virus Nipah di Bandara-Bandara Asia PasifikPeningkatan Pengawasan Virus Nipah di Bandara-Bandara Asia Pasifik

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan adanya kasus kematian akibat infeksi Virus Nipah di Bangladesh, yang memicu kewaspadaan tinggi di negara-negara Asia.

Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Melanjutkan Perjalanan ke China Usai Kerusuhan

Dalam mengantisipasi potensi penyebaran virus, langkah-langkah pengawasan di bandara telah diperketat untuk melindungi masyarakat dari ancaman kesehatan ini.

Kasus Virus Nipah di Bangladesh

Seorang wanita berusia sekitar 40 hingga 50 tahun di Bangladesh mengalami gejala serius pada 21 Januari dan meninggal seminggu setelahnya. Gejala yang ditunjukkan oleh pasien mencakup demam, sakit kepala, dan gejala neurologis.

Hasil tes pasca kematiannya menunjukkan bahwa ia positif terinfeksi Virus Nipah, meskipun tidak memiliki riwayat perjalanan. Beliau dilaporkan telah mengonsumsi getah pohon kurma mentah sebelum terinfeksi, menimbulkan kekhawatiran tentang cara penularan virus ini.

Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Ukir Rekor Baru dengan Transfer Alexander Isak

Tindakan Negara-Negara Asia

Sebagai respons terhadap situasi ini, negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, dan Pakistan telah memperketat pemeriksaan di bandara. Di Singapura, pekerja migran yang tiba dari Benggala Barat diwajibkan menjalani pemeriksaan suhu harian dan memantau gejala selama 14 hari.

Langkah-langkah ini penting untuk mencegah potensi wabah yang lebih luas, meskipun risiko penularan antar manusia dari virus ini tergolong rendah menurut otoritas kesehatan. Semua upaya ini bertujuan untuk melindungi masyarakat dari ancaman yang semakin nyata dari Virus Nipah.

Karakteristik Virus Nipah

Virus Nipah merupakan patogen dengan tingkat kematian yang tinggi, mencapai sekitar 75 persen bagi mereka yang terinfeksi. WHO menyatakan bahwa saat ini virus ini belum memiliki vaksin atau pengobatan yang efektif, sehingga kekhawatiran akan penyebarannya semakin meningkat.

Infeksi ini sering terjadi akibat kontak dengan kelelawar maupun konsumsi makanan yang terkontaminasi. Para penyintas virus ini juga berisiko menghadapi dampak jangka panjang, seperti kejang dan perubahan perilaku, menambah kompleksitas dalam penanganan kasus-kasus yang terjadi.

Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool, Bursa Transfer Musim Panas Berakhir

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Peningkatan Pengawasan Virus Nipah di Bandara-Bandara Asia Pasifik

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!