Potensi Bahaya Suhu Ekstrem bagi Indonesia: Temuan Studi Oxford
Indonesia diperkirakan akan menjadi salah satu negara yang paling terpengaruh oleh fenomena panas ekstrem akibat perubahan iklim. Studi terbaru dari University of Oxford memperingatkan bahwa efek tersebut akan semakin nyata ketika suhu global melampaui 1,5 derajat Celsius.
Baca juga: Dolby Vision 2: Inovasi Terbaru dalam Teknologi Visual untuk Pengalaman Menonton Optimal
Pada tahun 2010, sepertiga dari populasi dunia mengalami kondisi panas ekstrem, dan angka ini dapat meningkat menjadi 41 persen dalam beberapa dekade mendatang. Efek dari perubahan suhu ini terutama akan dirasakan oleh Indonesia, India, Nigeria, dan Bangladesh.
Laporan dari studi ini menunjukkan bahwa lonjakan suhu berbahaya tidak hanya akan memengaruhi negara-negara tropis saja. Negara dengan iklim lebih dingin seperti Austria dan Kanada juga diprediksi akan mengalami peningkatan hari-hari panas ekstrem hingga dua kali lipat menjelang suhu global mencapai dua derajat Celsius.
Dr. Jesus Lizana, Profesor Madya bidang Ilmu Rekayasa, menyatakan bahwa banyak perubahan terkait permintaan sistem pendinginan telah terjadi bahkan sebelum suhu global melewati ambang batas 1,5 derajat Celsius. Ia menekankan pentingnya langkah-langkah adaptif yang perlu diterapkan sejak dini.
Dalam konteks Indonesia, dampak kenaikan suhu dapat berujung pada kebutuhan memasang pendingin ruangan di banyak rumah, yang diperkirakan akan meningkat dalam lima tahun ke depan.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer yang Mengejutkan
Radhika Khosla dari Smith School of Enterprise and the Environment menambahkan bahwa melampaui batas kenaikan suhu bisa berdampak signifikan pada sektor-sektor penting seperti pendidikan, kesehatan, migrasi, dan pertanian. "Pembangunan berkelanjutan dengan target net zero adalah satu-satunya cara untuk membalikkan tren semakin banyak hari panas ekstrem," tegasnya.
Di Indonesia, risiko yang disebabkan oleh kenaikan suhu ekstrem dapat mengganggu produktivitas pertanian serta kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur yang berfokus pada mitigasi dan adaptasi terhadap fenomena ini menjadi semakin krusial.
Selain itu, peningkatan kebutuhan energi untuk pendinginan di negara tropis seperti Indonesia dapat mendorong emisi karbon, sehingga menyulitkan pencapaian target pengurangan emisi gas rumah kaca.
Studi ini juga menyediakan dataset terbuka yang mencakup peta dunia mengenai kebutuhan pemanasan dan pendinginan dengan resolusi sekitar 60 kilometer. Dataset ini diharapkan dapat membantu perencanaan pembangunan berkelanjutan dan kebijakan iklim yang lebih baik.
Dengan informasi ini, pemangku kepentingan di Indonesia diharapkan mampu merumuskan kebijakan yang lebih efektif untuk menghadapi perubahan iklim, serta dalam pengembangan infrastruktur yang lebih tangguh terhadap panas ekstrem.
Sebagai langkah awal, pemerintah dan organisasi terkait disarankan untuk menilai kembali strategi adaptasi dan mitigasi yang telah diterapkan guna menghadapi tantangan yang akan datang.
Baca juga: Calvin Verdonk Dekat Bergabung dengan Klub Prancis Lille
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: