Mengungkap Fenomena Quiet Quitting di Kalangan Karyawan Muda
Dalam era kerja yang semakin menuntut, 'quiet quitting' menjadi salah satu fenomena yang menarik perhatian. Ini menggambarkan sikap karyawan yang memilih untuk hanya melakukan minimum tanpa merasakan tekanan berlebih di dunia kerja.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia dan Siap Perkuat Timnas
Bagi banyak generasi muda, fenomena ini mencerminkan kebangkitan kesadaran atas keseimbangan hidup dan ketidakpuasan dengan tuntutan tinggi yang sering kali tidak dihargai.
Quiet quitting adalah fenomena di mana karyawan memilih untuk tetap bekerja tetapi tanpa berusaha lebih dari yang diminta. Ini bukan resign, tetapi lebih kepada mindset untuk mengurangi stres dan tekanan dalam pekerjaan.
Munculnya fenomena ini sering kali dikaitkan dengan media sosial seperti TikTok dan Twitter, di mana orang membagikan pengalaman tentang beban kerja yang tidak adil. Pengabaian terhadap tuntutan yang tidak realistis dianggap sebagai upaya menjaga kesehatan mental.
Survei terbaru menunjukkan bahwa hampir 50% pekerja muda merasa terjebak dalam rutinitas yang monoton dan tidak mengasyikkan. Ini menegaskan bahwa banyak di antaranya merasa tidak dihargai, tetapi tetap berupaya mencari cara untuk bertahan.
Baca juga: Kasus Tragis Anggota Brimob Terkait Pengemudi Ojek Online Masuki Jalur Pidana
Tuntutan pekerjaan yang semakin tinggi tanpa pengakuan yang memadai menjadi salah satu penyebab utama quiet quitting. Karyawan merasa frustrasi ketika perusahaan tidak memberikan solusi untuk mengatasi tekanan yang mereka hadapi.
Situasi ekonomi yang menantang juga berkontribusi terhadap fenomena ini. Banyak generasi muda terjebak dalam pekerjaan demi kelangsungan hidup, sehingga kehilangan semangat kerja ketika tidak menemukan kepuasan.
"Anak muda saat ini lebih memilih bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja," kata seorang peneliti sumber daya manusia. Ini mencerminkan perubahan pola pikir generasi yang kini lebih memilih keseimbangan kerja dan kehidupan dibandingkan ambisi karir semata.
Dampak quiet quitting dapat bervariasi, mulai dari penurunan produktivitas hingga meningkatnya angka pergantian karyawan. Perusahaan yang tidak menyadari fenomena ini berisiko kehilangan talenta terbaik mereka.
Namun, fenomena ini juga memberi kesempatan bagi perusahaan untuk lebih memperhatikan kesejahteraan karyawan. Jika ditangani dengan bijak, perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan produktif.
Menciptakan adaptasi dengan kebutuhan karyawan, seperti memberikan fleksibilitas dalam jadwal kerja atau meningkatkan dukungan mental, bisa menjadi strategi efektif untuk mengurangi fenomena quiet quitting.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool, Bursa Transfer Musim Panas Berakhir
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: