Dampak Monsun Asia Terhadap Cuaca Ekstrem di Indonesia Berlanjut
Monsun Asia yang berasal dari Laut China Selatan kini menjadi penyebab meningkatnya cuaca ekstrem di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengindikasikan bahwa hujan lebat di sejumlah wilayah dapat dihubungkan dengan fenomena meteorologi ini.
Baca juga: Google Tanggapi Isu Keamanan Gmail Terkait Phishing
BMKG juga menjelaskan bahwa angin yang bergerak menuju Indonesia diperkuat oleh arus dingin dari dataran tinggi Siberia, menambah kemungkinan intensitas hujan dalam waktu dekat.
Monsun Asia mempunyai peran penting dalam mengatur cuaca di Indonesia. Menurut BMKG, massa udara lembab yang dibawa oleh monsun ini merangsang pembentukan awan hujan di wilayah selatan.
BMKG mengungkapkan bahwa angin ini bergerak melalui Selat Karimata dan terpengaruh oleh pendinginan dari dataran tinggi Siberia. Akibatnya, kondisi ini meningkatkan curah hujan di beberapa daerah, termasuk Sumatera, Jawa, dan Bali.
Data cuaca tahunan menunjukkan bahwa aktivitas monsun juga mengubah pola cuaca secara keseluruhan di Indonesia. Dalam sepekan ke depan, diharapkan potensi peningkatan aktivitas monsun akan terus berlanjut, yang dapat menimbulkan cuaca ekstrem.
Baca juga: Menemukan Kebahagiaan dalam Momen Sederhana
BMKG juga melaporkan adanya Bibit Siklon Tropis 91S dan 92P yang terpantau di Samudra Hindia. Keberadaan siklon ini dapat memperkuat daerah konvergensi hujan di bagian selatan Indonesia.
Daerah-daerah yang berpotensi mengalami hujan lebat mencakup Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Karena ini, BMKG mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem.
Fenomena siklon tropis ini menambah kompleksitas dalam sistem cuaca yang ada, menyebabkan tantangan baru dalam prediksi cuaca serta usaha mitigasi bencana alam.
Mengingat proyeksi cuaca di Indonesia selama periode 26-29 Januari 2026, dinamika atmosfer global akan sangat memengaruhi situasi ini. BMKG mencatat bahwa fenomena El Niño-Southern Oscillation (ENSO) saat ini berada pada fase negatif dengan indikasi La Niña yang lemah.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan pasokan uap air yang penting untuk pembentukan hujan, terutama di bagian timur Indonesia. BMKG juga memperingatkan bahwa potensi cuaca ekstrem di seluruh daerah masih tinggi.
Masyarakat disarankan untuk waspada terhadap hujan lebat yang mungkin terjadi di beberapa daerah, seperti Aceh, Banten, dan Papua. Peringatan dini juga diharapkan untuk potensi hujan lebat, petir, dan angin kencang yang bisa mengganggu aktivitas masyarakat.
Baca juga: Mengubah Kamar Kecil Menjadi Ruang Cozy Dengan Beberapa Trik Sederhana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: