Tekanan Produktivitas: Bagaimana Keterpakuan pada Kerja Mempengaruhi Kesehatan Manusia
Fenomena yang dikenal sebagai 'toxic productivity' kini semakin umum di masyarakat, di mana individu merasa tertekan untuk terus bekerja tanpa henti. Akibatnya, banyak yang merasakan dampak negatif pada kesehatan mental dan fisik mereka.
Baca juga: Penangkapan ‘Profesor R’ Terkait Aksi Demo Ricuh di Jakarta
Dalam dunia yang semakin kompetitif, dorongan untuk selalu produktif sering kali menjebak kita dalam siklus stres yang berkepanjangan. Penting untuk mengevaluasi kembali pandangan kita terhadap produktivitas dan kesejahteraan.
Toxic productivity merujuk pada keadaan di mana individu merasa terdesak untuk terus bekerja tanpa henti, meskipun dalam kondisi lelah. Ini sering kali menjadi tanda pencarian akan pengakuan melalui pencapaian yang tidak sehat.
Menurut survei yang dilakukan oleh HealthLine, sekitar 87% pekerja merasa perlu untuk selalu produktif, terlepas dari kondisi emosional dan fisik mereka. Perasaan tidak pernah cukup atau tidak berharga jika tidak produktif adalah ciri umum dari toxic productivity.
Kebiasaan ini mendorong individu untuk mengorbankan waktu bersosialisasi dan istirahat demi menyelesaikan pekerjaan, sehingga menciptakan siklus tekanan yang berkelanjutan. Akibatnya, mereka terus-menerus merasa cemas dan tertekan.
Baca juga: Kunto Aji: Artis Tak Perlu Perlakuan Istimewa di DPR
Dampak dari toxic productivity dapat berbahaya, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Penelitian menunjukkan bahwa individu yang terjebak dalam pola ini lebih rentan terhadap stres, kecemasan, dan depresi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa stres kerja, yang sering kali terkait dengan siklus produktivitas yang tidak sehat, dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Ini termasuk gangguan tidur serta penyakit jantung.
Kurangnya waktu untuk diri sendiri juga bisa memengaruhi hubungan interpersonal. Mereka yang terus menerus bekerja cenderung mengisolasi diri, yang dapat memperburuk kondisi mental dan emosional.
Mengatasi toxic productivity memerlukan kesadaran diri dan perubahan pola pikir. Menetapkan batasan waktu kerja dan memprioritaskan jam istirahat yang berkualitas dapat menjadi langkah awal yang penting.
Dalam buku 'The Art of Rest', Claudia Hammond menekankan pentingnya menemukan keseimbangan dalam rutinitas harian. Mengintegrasikan kegiatan relaksasi dan hobi dapat membantu individu memulihkan energi dan fokus kembali.
Selanjutnya, penting untuk membangun jaringan dukungan sosial, baik dari teman, keluarga, maupun rekan kerja. Diskusi tentang pengalaman kerja dan tekanan yang dialami dapat membantu mengurangi perasaan kesepian dan meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Ukir Rekor Baru dengan Transfer Alexander Isak
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: