Respon Iran Terhadap Pernyataan Kembalinya Reza Pahlavi ke Teheran
Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, memberi tanggapan atas pernyataan tokoh oposisi Reza Pahlavi yang menyatakan keinginannya untuk kembali ke Teheran dan mengambil alih kepemimpinan negara tersebut.
Baca juga: Adrian Wibowo: Sejarah Pemain Indonesia-Amerika di Major League Soccer
Boroujerdi menyebut rencana tersebut sebagai satu 'lelucon' dan menegaskan tidak ada kehendak rakyat Iran untuk kembali ke kondisi sebelum revolusi Islam pada tahun 1979.
Dalam jumpa pers yang diadakan pada Kamis (22/1), Duta Besar Boroujerdi menilai pernyataan Reza Pahlavi sebagai sebuah 'lelucon'.
Ia menekankan bahwa tidak ada masyarakat Iran yang ingin kembali ke kondisi sebelum revolusi, bahkan bagi mereka yang tidak setuju dengan pemerintah saat ini.
"Ini cuma lelucon. Beliau ini 47 tahun berada di luar Iran dan menggunakan uang hasil mencuri dari rakyat Iran untuk tinggal di luar negeri," ungkap Boroujerdi.
Pernyataannya menunjukkan betapa skeptisnya rakyat Iran terhadap rencana Pahlavi.
Reza Pahlavi merupakan putra mahkota terakhir dari Kerajaan Iran dan kini tinggal di pengasingan di Amerika Serikat.
Baca juga: Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru: Diduga Lakukan Provokasi Anarkis
Ia meninggalkan Iran pada tahun 1978 untuk melanjutkan pendidikan pilot, sebelum pemerintahan ayahnya digulingkan.
Saat ini, Reza Pahlavi menjadi simbol penentangan bagi segelintir rakyat yang menginginkan kembalinya monarki.
Namun, Boroujerdi menilai kehadiran Pahlavi dalam demonstrasi di Iran dianggap sebagai bentuk manipulasi politik oleh negara-negara Barat.
Menurut Boroujerdi, Reza Pahlavi tidak memiliki dukungan signifikan di kalangan masyarakat Iran.
"Jika Anda bertanya kepada masyarakat Iran, bahkan kepada mereka yang tidak setuju dengan pemerintah Iran saat ini, mereka tidak percaya dan tidak mengharapkan adanya beliau (Pahlavi) ini," jelas Boroujerdi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: