BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Sabtu, 17 JANUARI 2026 • 11:55 WIB

Mendeteksi Kebahagiaan di Era Digital: Apakah Validasi Sosial Media Memengaruhi Mental Kita?

Mendeteksi Kebahagiaan di Era Digital: Apakah Validasi Sosial Media Memengaruhi Mental Kita?Mendeteksi Kebahagiaan di Era Digital: Apakah Validasi Sosial Media Memengaruhi Mental Kita?

Di zaman serba digital ini, banyak yang merasa kebahagiaan mereka ditentukan oleh jumlah 'like' dan komentar dari sosial media. Validasi dari interaksi online sering kali dianggap sebagai tolok ukur status sosial.

Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Ukir Rekor Baru dengan Transfer Alexander Isak

Namun, apakah hal ini mencerminkan kebahagiaan sejati? Sebuah studi menunjukkan bahwa dukungan di dunia maya bisa membantu, tetapi bisa juga menjadi dua sisi yang tajam bagi kesehatan mental.

Sosial Media dan Kesehatan Mental

Banyak penelitian menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan sosial media dan kesehatan mental. Sebuah studi yang dilakukan oleh American Psychological Association mencatat bahwa pengguna yang secara berlebihan memeriksa akun sosial mereka memiliki risiko depresi dan kecemasan yang lebih tinggi.

Fenomena ini sering disebabkan oleh perbandingan sosial yang terjadi saat melihat kehidupan 'sempurna' orang lain di platform tersebut. Hal ini membuat individu merasa kurang berharga ketika mereka membandingkan diri dengan orang lain.

Istilah 'FOMO' atau Fear of Missing Out juga semakin umum, yang mencerminkan rasa cemas akan kehilangan pengalaman berharga yang tampil jauh lebih baik di media sosial.

Baca juga: Universitas Islam Bandung dan Universitas Pasundan Bantah Keterlibatan TNI-Polri di Kericuhan

Dari Jempol ke Perasaan

Validasi sosial datang dalam berbagai bentuk, mulai dari jempol, komentar positif, hingga repost. Seringkali, masyarakat merasa lebih bahagia dengan tanggapan positif walaupun efeknya hanya bersifat sementara.

Namun, ketidakpastian terhadap respons dapat mengganggu kesehatan mental seseorang. Misalnya, ketika postingan tidak mendapatkan perhatian yang sama dengan sebelumnya, bisa muncul perasaan tidak nyaman.

Psikolog merekomendasikan untuk membuat batasan dalam penggunaan sosial media agar terhindar dari siklus pencarian validasi yang tak berujung.

Membangun Kebahagiaan yang Sehat

Penting untuk menyadari bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya bergantung pada 'like' dan komentar. Menghabiskan waktu berkualitas dengan keluarga dan teman, melibatkan diri dalam hobi, atau memberikan kontribusi kepada orang lain dapat menciptakan kepuasan yang lebih mendalam.

Praktik ini membantu mengurangi ketergantungan pada validasi dari sosial media. Mengingat bahwa diri sendiri memiliki nilai tanpa pengakuan dari orang lain di dunia maya dapat meningkatkan kualitas hidup.

Kesadaran akan hal ini menjadi kunci untuk mencapai kebahagiaan yang lebih berkelanjutan dan autentik.

Baca juga: Lari Malam: Manfaat, Tantangan, dan Tips Keamanan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Mendeteksi Kebahagiaan di Era Digital: Apakah Validasi Sosial Media Memengaruhi Mental Kita?

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!