Cuaca Ekstrem Landa Kudus, Banjir Meluas dan Warga Terdampak
Cuaca ekstrem yang melanda Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, telah menyebabkan banjir meluas dan mengakibatkan dampak signifikan bagi warga setempat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus mencatat lebih dari 48.000 jiwa terpengaruh dari fenomena ini.
Baca juga: Kericuhan Memanas di Bandung: Penjelasan Terkait Insiden Gas Air Mata
Sebanyak 15.237 kepala keluarga di enam kecamatan menghadapi dampak serius dari banjir yang mulai terjadi sejak awal pekan. Pihak BPBD menyatakan bahwa warga kini mencari tempat aman untuk berlindung dari genangan air.
Sebanyak 25 desa di Kabupaten Kudus dilaporkan mengalami banjir, dengan Kecamatan Mejobo menjadi yang paling parah terdampak. Eko Hari Djatmiko, Kepala BPBD Kudus, mengungkapkan bahwa sepuluh desa terendam di Kecamatan Mejobo.
Kecamatan Jekulo juga mengalami dampak, dengan lima desa terendam, diikuti Kecamatan Jati yang mencatat empat desa terendam. Sementara itu, Kaliwungu dan Undaan masing-masing mencatat tiga dan dua desa terendam, dan Kecamatan Bae satu desa.
Peningkatan debit air jelas terlihat di berbagai lokasi, membuat banyak rumah warga terendam genangan. Eko menegaskan bahwa fenomena banjir ini dimulai sejak curah hujan tinggi menggelontor area tersebut pada awal pekan.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool, Bursa Transfer Musim Panas Berakhir
Hingga Rabu, 14 Januari 2026, sebanyak 164 warga telah mengungsi ke lokasi lebih aman. Dari jumlah tersebut, 118 di antaranya adalah perempuan dan sisanya, 46, laki-laki.
Tempat pengungsian telah disiapkan, termasuk TPQ Khurriyatul Fikri di Desa Pasuruhan Lor dan MI Hidayatus Shibyan. Pengungsian ini bertujuan memberikan perlindungan bagi warga dari bahaya banjir.
Pemerintah daerah pun telah membentuk dapur umum di tujuh lokasi untuk memastikan pasokan logistik bagi para pengungsi. Lokasi-lokasi ini termasuk Kantor PMI Kudus dan beberapa balai desa di sekitar wilayah terdampak.
Banjir juga berdampak parah pada infrastruktur vital di daerah, mengakibatkan akses Jalan Lingkar Kudus-Pati dan beberapa jembatan seperti Jembatan Ngembalrejo dan Jembatan Bukduwur Tenggeles terendam. Kondisi ini mengakibatkan kemacetan panjang di berbagai titik.
Selain itu, muncul ancaman baru berupa tanah longsor dan pohon tumbang yang berpotensi menambah kesulitan bagi masyarakat yang sudah terimbas banjir. Eko menyebutkan bahwa longsor terdeteksi di 132 lokasi di beberapa kecamatan.
Hal ini tentunya meningkatkan risiko dan mempersulit proses penanggulangan banjir yang sudah berlangsung. Masyarakat diharapkan tetap waspada dan mengikuti arahan dari pihak berwenang terkait situasi ini.
Baca juga: Menjelajahi Lima Kota Ramah untuk Liburan Sendirian di Indonesia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: