Mengapa Kita Merasa Waktu Berlari Ketika Dewasa
Perasaan bahwa waktu berlalu lebih cepat seiring bertambahnya usia adalah fenomena yang umum dialami banyak orang. Baik faktor psikologis maupun biologis berkontribusi pada pengalaman ini.
Baca juga: Apple Siapkan Peluncuran iPhone 17 Series Tanpa Slot SIM Tray
Di masa dewasa, rutinitas yang monoton sering kali membuat waktu terasa lebih cepat dibandingkan di masa kanak-kanak yang penuh eksplorasi.
Salah satu alasan mengapa waktu terasa lebih cepat bagi orang dewasa adalah psikologi persepsi. Seiring bertambahnya usia, otak kita mulai mengkategorikan pengalaman dan memori yang serupa, sehingga menciptakan kesan waktu yang lebih singkat.
Ketika kita mengenang masa kecil, kita diingatkan akan banyak pengalaman baru yang menarik. Namun, rutinitas harian yang membosankan di usia dewasa mengurangi penciptaan kenangan baru.
Dr. Philip Zimbardo, seorang psikolog terkenal, menjelaskan, 'Pikiran kita lebih bisa merasakan waktu saat kita terlibat sepenuhnya dalam momen.' Ketika tidak hadir secara penuh, kita cenderung merasa waktu berlalu lebih cepat.
Baca juga: Pemeriksaan Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024
Dalam fase dewasa, individu biasanya terjebak dalam rutinitas yang lebih ketat. Komitmen pekerjaan, tanggung jawab keluarga, dan urusan lain sering kali menyita hampir seluruh waktu kita.
Berbeda dengan masa kecil yang lebih bebas, waktu dewasa diisi dengan tugas-tugas yang cenderung berulang. Kurangnya variasi dalam pengalaman ini dapat mengurangi kesan akan waktu yang masih cukup saat dibutuhkan.
David Eagleman, seorang ahli neurologi, berpendapat, 'Pengalaman yang kaya dan beragam dapat memperlambat persepsi kita terhadap waktu.' Rutinitas yang monoton menambah kesan bahwa waktu bergerak cepat.
Seiring bertambahnya usia, aspek biologis juga mempengaruhi persepsi kita terhadap waktu. Penelitian menunjukkan bahwa neuron dalam otak mengurangi kecepatan sinyal yang dikirim seiring bertambahnya usia.
Akibatnya, pengolahan waktu dalam otak menjadi kurang efisien. Hal ini berkontribusi pada persepsi bahwa waktu terasa lebih cepat dibandingkan saat kita masih muda.
Dr. Alain de Botton, seorang penulis dan pemikir, menambahkan, 'Makin tua kita, makin sedikit waktu yang terasa penuh dan berharga.' Ini menunjukkan bahwa persepsi waktu dipengaruhi oleh fase kehidupan, serta kesehatan mental dan fisik.
Baca juga: Manchester United dan Manchester City Cari Kiper Baru Menjelang Bursa Transfer
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: