Gelombang Aksi Protes di Iran: Menghadapi Pemimpin dan Respons Global
Iran tengah dilanda demonstrasi besar yang menolak kekuasaan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Aksi protes ini mencerminkan ketidakpuasan mendalam terhadap rezim teokratis dan telah menyebabkan banyak korban jiwa.
Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru Peroleh Sorotan Tajam dari Komnas HAM dan DPR
Khamenei sendiri menanggapi protes ini dengan menyebut para demonstran sebagai 'perusuh' dan mengklaim mereka berusaha 'menyenangkan' pemimpin AS, Donald Trump. Sementara itu, laporan menunjukkan sedikitnya 62 orang tewas dalam kekacauan ini.
Aksi demonstrasi di Iran dimulai pada akhir Desember lalu dan menyebar ke berbagai kota besar termasuk Teheran. Ketidakpuasan masyarakat tergambar dari berbagai cara, salah satunya dengan membakar bangunan pemerintah.
Dalam pidato pertamanya sejak aksi protes meluas, Khamenei menuduh para demonstran sebagai 'perusuh'. Ia menegaskan bahwa 'Republik Islam datang ke tampuk kekuasaan dengan darah ratusan ribu orang terhormat, dan tidak akan mundur menghadapi para penyabot.'
Pidato Khamenei ini disiarkan secara langsung di televisi pemerintah, menegaskan sikap pemerintah yang keras terhadap demonstran. Jaringan hak asasi manusia Iran, HRANA, melaporkan sedikitnya 62 orang tewas, termasuk 14 anggota keamanan.
Penanganan demonstrasi di Iran tidak luput dari perhatian dunia internasional. Pemimpin Perancis, Emmanuel Macron, Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, dan Kanselir Jerman, Friedrich Merz, mengeluarkan pernyataan bersama yang mengutuk 'pembunuhan terhadap para pengunjuk rasa.'
Baca juga: Menemukan Kebahagiaan dalam Momen Sederhana
Donald Trump menanggapi situasi di Iran lewat media sosial, mengatakan, 'Antusiasme untuk menggulingkan rezim itu luar biasa.' Ia juga menegaskan bahwa AS akan bertindak tegas jika pemerintah Iran melakukan kekerasan terhadap demonstran.
Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran, mendesak Trump untuk mengambil tindakan lebih lanjut dan berkomentar, 'Tolong bersiaplah untuk melakukan intervensi demi membantu rakyat Iran.' Ia menekankan pentingnya dukungan internasional dalam melawan kekuatan represif pemerintah Iran.
Di lapangan, video memperlihatkan kerumunan besar demonstran berteriak 'mati bagi diktator'. Sebaliknya, televisi pemerintah melaporkan aksi tandingan dengan slogan pro-pemerintah.
Menyikapi protes, pihak berwenang dilaporkan melakukan pemadaman internet untuk meredam komunikasi di antara demonstran. Hal ini memunculkan kekhawatiran akan meningkatnya tindak kekerasan.
Amnesty International dan Human Rights Watch melaporkan bahwa aparat keamanan menggunakan senjata tajam dan gas air mata terhadap demonstran. Michael Page, Wakil Direktur HRW untuk Timur Tengah, menyebut tindakan ini sebagai kebijakan negara yang mengakar.
Reza Pahlavi menekankan pentingnya demonstrasi lebih lanjut, percaya bahwa aksi tersebut dapat melemahkan kekuatan represif pemerintah. 'Massa besar memaksa kekuatan represif untuk mundur,' ungkapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: