Trump Umumkan Kerjasama Inovatif dengan Venezuela, Serangan Kedua Dibatalkan
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa rencana serangan kedua terhadap Venezuela dibatalkan setelah terjalinnya kerjasama positif dengan rezim di Caracas.
Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru Peroleh Sorotan Tajam dari Komnas HAM dan DPR
Trump menggambarkan pembebasan tahanan politik di Venezuela sebagai langkah penting dan cerdas, menandakan adanya dialog antara kedua negara.
Dalam keterangannya melalui Truth Social, Trump menyatakan, 'AS dan Venezuela bekerja sama dengan baik, terutama dalam hal membangun kembali, dalam bentuk yang jauh lebih besar, lebih baik, dan lebih modern, infrastruktur minyak dan gas mereka.'
Perkembangan ini muncul setelah sebelumnya terdapat operasi militer AS yang bertujuan menangkap Presiden Nicolas Maduro. Operasi tersebut berujung pada kematian 24 petugas keamanan Venezuela dan meningkatkan ketegangan di Amerika Tengah dan Selatan.
Trump juga mengingatkan bahwa meskipun serangan dibatalkan, kapal-kapal AS akan tetap berada di lokasi untuk menjaga keselamatan dan keamanan.
Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Rencana Demo di Jakarta
Jorge Rodríguez, kepala Majelis Nasional Venezuela, mengumumkan bahwa Venezuela telah membebaskan sejumlah besar warga negara asing dari penjara. Menyikapi hal ini, Trump menyatakan bahwa langkah tersebut menunjukkan bahwa Venezuela 'mencari perdamaian'.
Dengan adanya pembebasan ini, AS terus mendesak agar tahanan politik di Venezuela dibebaskan. Trump mengungkapkan niatnya untuk membantu Venezuela melalui investasi yang diproyeksikan mencapai minimal US$100 miliar dari perusahaan minyak besar.
Hal ini mengindikasikan ketertarikan AS untuk lebih terlibat dalam investasi energi di Venezuela dan mendukung pergeseran dalam struktur pemerintahan di negara tersebut.
Dukungan untuk melakukan serangan militer tampaknya mulai terhambat, setelah Senat memberi suara untuk memajukan resolusi kekuatan perang. Dalam pemungutan suara tersebut, lima anggota Partai Republik bergabung dengan Demokrat, mengindikasikan adanya penolakan terhadap penggunaan kekuatan militer tanpa persetujuan Kongres.
Komentar dari mantan Penasihat Keamanan Nasional, John Bolton, menyebutkan bahwa Trump sebenarnya 'melegitimasi kembali rezim Maduro' dan menuduhnya tidak memahami kepercayaan dari rakyat Venezuela terhadap Maria Corina Machado.
Trump dijadwalkan untuk menjumpai pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado, guna mendiskusikan kemungkinan dukungan terhadap oposisi di negara tersebut.
Baca juga: Menemukan Kebahagiaan dalam Momen Sederhana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: