Mengurai Dinamika Emosi Anak Terhadap Ibu Kandung
Fenomena kebencian anak terhadap ibu kandung sering kali terjadi dalam dinamika keluarga, terutama saat masa remaja. Meskipun umumnya hubungan penuh kasih sayang, kadang anak merasa dikhianati atau tidak dipahami, yang memunculkan emosi negatif mendalam.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia dan Siap Perkuat Timnas
Perasaan ini bukan hanya sekedar emosi sesaat, melainkan seluk-beluk yang kompleks dalam hubungan antara orang tua dan anak. Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi alasan di balik fenomena ini dan dampaknya terhadap komunikasi dalam hubungan tersebut.
Peran seorang ibu dalam kehidupan anak sangat signifikan, tetapi sering terdapat harapan yang salah kaprah terhadap figur ibu. Sabrina Romanoff, PsyD, menjelaskan bahwa 'seseorang umumnya menyimpan rasa benci terhadap ibunya saat pernah diperlakukan tidak adil, diabaikan, atau disakiti.'
Ketika ibu tidak dapat memenuhi harapan emosional anak, kemarahan pun dapat muncul. Dinamika ini menciptakan ketegangan antara cinta dan benci, dua perasaan yang sering saling bertabrakan.
Pengabaian atau ketidakadilan yang dirasakan anak menyebabkan perasaan frustrasi yang berkepanjangan, mengubah interaksi antara ibu dan anak menjadi rumit dan penuh konflik.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer yang Mengejutkan
Sikap orang tua yang tidak konsisten bisa menjadi sumber kebencian. Ibu yang sering berubah pikiran atau tidak tegas cenderung membuat anak merasa 'tidak dapat mengandalkannya sebagai sosok yang bisa diandalkan.'
Penelitian menunjukkan bahwa pola asuh yang tidak stabil dapat meningkatkan kecemasan anak. Ketidakpastian ini mengarah pada perasaan bahwa anak tidak diterima atau tidak dicintai.
Ketidakpastian dalam pola asuh menambah tekanan emosional bagi anak, yang dapat menyebabkan hubungan menjadi semakin sulit.
Komunikasi juga berperan penting dalam hubungan ini. Saat ibu sering mengkritik dan bersikap menuntut, anak bisa merasa tertekan 'Rasa dendam yang menumpuk sering berasal dari kemarahan yang belum terselesaikan atas pengabaian serta trauma yang terjadi selama masa kanak-kanak.'
Hasilnya, anak dapat merasa terasing dan tidak mendapatkan dukungan yang diperlukan saat mereka tumbuh dewasa. Ketidakmampuan ibu untuk memberikan dukungan dalam momen krusial membuat situasi semakin sulit.
Keterbatasan komunikasi menambah jarak emosional dan memperburuk perasaan negatif yang sudah ada, menciptakan siklus yang sulit untuk diputus.
Baca juga: Lari Malam: Manfaat, Tantangan, dan Tips Keamanan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: