Keterbatasan dan Kecintaan: Dualisme Penilaian pada Avatar: Fire and Ash
Film terbaru James Cameron, Avatar: Fire and Ash, menimbulkan perdebatan hangat di antara kritikus dan penonton. Sementara kritikus memberikan penilaian tajam, penggemar justru merespons secara positif dengan skor tinggi di berbagai platform.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Ukir Rekor Baru dengan Transfer Alexander Isak
Dengan mendapat 66 persen di Rotten Tomatoes, film ini menjadi yang terendah dalam saga Avatar. Namun, di sisi lain, penilaian penonton mencapai 91 persen, menunjukkan adanya jurang pemisah yang menarik antara evaluasi profesional dan tanggapan masyarakat.
Film ini mendapatkan penilaian 66 persen dari 307 kritikus di Rotten Tomatoes, angka terendah dalam trilogi Avatar. Kritikus seperti Stephanie Zacharek dari TIME Magazine berkomentar bahwa 'visi Cameron tidak lagi terasa sebagai masa depan, melainkan sebuah perjalanan nostalgia, bentuk deja vu yang sangat mahal.'
Peter Bradshaw dari Guardian menambahkan bahwa 'Avatar tetap sama besarnya dalam ketidakmenarikan,' merujuk pada apa yang dianggapnya sebagai 'bangunan besar yang kosong.' Kritik ini juga diungkapkan oleh Nicholas Barber dari BBC.com yang menggambarkan film tersebut sebagai '197 menit grafis seperti screensaver.'
Kritikus lainnya berpendapat bahwa meskipun secara visual menakjubkan, film ini tidak membawa narasi yang kuat dan tergolong tidak orisinal.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan Rumah Ahmad Sahroni: Polisi Kembali Barang yang Hilang
Di tengah kritik, beberapa kritikus mengakui keterampilan James Cameron dalam menyajikan film ini. Jake Coyle dari Associated Press menegaskan bahwa 'ini tetap merupakan epik dalam hal keterampilan dan keyakinan,' sebuah pengakuan atas dedikasi Cameron terhadap pengembangan karakter.
David Ehrlich dari IndieWire mencatat bahwa, meskipun mengikuti pola yang sama, Cameron berhasil menghadirkan momen-momen baru. 'Ekspektasi tidak mempersiapkan saya pada kenyataan menyaksikan salah satu penjelajah terbesar sinema berjalan berputar-putar,' tegasnya.
Secara keseluruhan, meskipun narasi film dikritik, teknik dan estetika yang ditampilkan tetap mendapatkan lebih banyak penghargaan.
Walaupun kritik datang deras, penonton memberikan respons berbeda dengan skor 91 persen di Popcornmeter. Menurut mereka, kemiripan cerita dengan film sebelumnya bukanlah hal yang aneh, dan mereka menghargai pengembangan karakter yang dilakukan oleh Cameron.
Cerita film ini berfokus pada keluarga Jake Sully dan konflik internal mereka setelah peristiwa di film sebelumnya. Ini terpaksa menghadapi tantangan dari suku Mangkwan dan ujian kesetiaan yang mendalam.
Sejak tayang pada 17 Desember 2025 di bioskop Indonesia, film ini terus menarik perhatian, menunjukkan bahwa meskipun kritik muncul, saga Avatar tetap memiliki daya tarik yang tak terbantahkan di kalangan penonton.
Baca juga: Apple Siapkan Peluncuran iPhone 17 Series Tanpa Slot SIM Tray
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: