Dialog antara Jepang dan Tiongkok di Tengah Ketegangan
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menunjukkan niatnya untuk berkomunikasi dengan Tiongkok meskipun ketegangan terkait Taiwan semakin meningkat.
Baca juga: Lee Min-sung Ajak Timnas Korea Selatan U-23 Siap Bersaing di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Takaichi menekankan pentingnya hubungan konstruktif antara kedua negara saat konflik bilateral semakin mendalam.
Pernyataan Takaichi terjadi pada 7 November 2025, saat dia menilai serangan Tiongkok ke Taiwan sebagai 'situasi yang mengancam kelangsungan hidup.'
Dia menegaskan bahwa insiden tersebut bisa memberikan Jepang hak untuk melakukan pembelaan diri secara kolektif dalam konteks pertahanan regional.
Meskipun menghadapi kuatnya kritik dari Beijing, Takaichi tetap pada pendiriannya untuk menjaga komunikasi, mengatakan bahwa 'Jepang selalu membuka pintu untuk dialog.'
Ketersediaan diskusi ini menjadi sangat penting mengingat tantangan yang dihadapi kedua negara dalam menyelesaikan isu-isu bilateral secara konstruktif.
Tiongkok memberikan respons keras terhadap pernyataan Takaichi, dengan mengimbau warganya untuk menunda perjalanan ke Jepang dan menangguhkan impor makanan laut dari Jepang.
Baca juga: Kerusuhan di Bandung Berujung Penembakan Gas Air Mata oleh Pengamanan
Ketegangan yang sudah ada semakin meningkat, terutama setelah Jepang melaporkan manuver tidak biasa pesawat tempur Tiongkok mendekati wilayahnya.
Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, mengadakan pembicaraan dengan Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, mengenai radar yang mengunci pesawat SDF oleh jet tempur Tiongkok.
Dalam sebuah konferensi pers, pihak Tiongkok menyebut bahwa tindakan tersebut merupakan 'praktik umum' bagi pesawat berbasis kapal induk yang sedang berlatih.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, meminta Jepang untuk merenungkan tindakannya dan tidak hanya mencari dukungan dari negara lain.
Guo menambahkan, 'Yang harus dilakukan pihak Jepang adalah mendengarkan seruan ini dan melakukan introspeksi diri,' dan menyarankan agar Jepang bertindak secara bertanggung jawab.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: