Kesiapsiagaan Jakarta Terhadap Ancaman Gempa Bumi
Jakarta, ibu kota Indonesia, kembali diingatkan tentang potensi ancaman gempa bumi. Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa kota ini memiliki patahan sesar yang aktif dan berisiko memicu gempa berkekuatan besar.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia dan Siap Perkuat Timnas
Endra Gunawan, Associate Professor di ITB, menekankan pentingnya penelitian ini untuk meningkatkan mitigasi risiko bencana, terutama di area padat penduduk seperti Jakarta.
Metode GNSS slip-rate yang digunakan dalam penelitian menunjukkan deformasi kerak di Jakarta berulang secara periodik. Patahan di bagian selatan kota ini tercatat memiliki laju pergeseran sekitar tiga milimeter per tahun dengan kedalaman penguncian tujuh kilometer.
Penelitian ini memperkuat urgensi pemantauan berbasis deformasi, yang menjadi salah satu fondasi mitigasi bencana modern. Endra menekankan bahwa hasil ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya gempa di area perkotaan.
Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru Peroleh Sorotan Tajam dari Komnas HAM dan DPR
Sesar Baribis-Kendeng, salah satu sesar utama di pulau Jawa, memegang peranan penting dalam potensi ancaman bagi Jakarta. Sonny Aribowo dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN menyatakan bahwa sesar ini melewati beberapa daerah di Jawa Barat, termasuk bagian selatan Jakarta.
Menurut Sonny, pemahaman lokasi jalur aktif dari sesar ini diperlukan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi bahaya geologi. Penelitian di daerah padat penduduk seperti Jakarta dan Bogor menjadi sangat penting dalam memahami risiko seismik.
Walaupun Jakarta dikenal sebagai kota yang relatif aman dari gempa, sejarah menunjukkan bahwa kota ini pernah mengalami sejumlah kerusakan akibat gempa. Catatan mencatat kejadian gempa besar di Jakarta terjadi pada tahun 1699, 1780, dan 1903.
Keberadaan lempeng tektonik aktif di sekitar Indonesia menjadikan Jakarta rentan terhadap ancaman gempa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sekitar 30 ribu kali kejadian gempa setiap tahunnya, yang semakin mendesak perlunya kesiapsiagaan yang lebih baik.
Baca juga: Menemukan Kebahagiaan dalam Momen Sederhana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: