Peningkatan Risiko Penyakit Pasca Banjir di Sumatera: Apa yang Perlu Diketahui?
Banjir yang melanda beberapa daerah di Sumatera tidak hanya menyebabkan kerusakan infrastruktur, tetapi juga meningkatkan risiko penyebaran berbagai penyakit. Kondisi lingkungan yang kotor dan keterbatasan akses terhadap air bersih memperparah keadaan kesehatan masyarakat.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Tersendat di Kualifikasi Piala Asia, Berakhir Imbang Melawan Laos
Epidemiolog Dicky Budiman dari Griffith University menjelaskan bahwa terdapat empat penyakit utama yang dapat menyebabkan wabah pasca bencana banjir, yang relevansinya tidak hanya terlihat di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lain dengan karakteristik serupa.
Leptospirosis merupakan salah satu penyakit yang paling umum muncul setelah terjadinya banjir. Dicky menegaskan, 'Leptospirosis sekarang itu yang tinggi potensi menjadi wabah' akibat paparan manusia terhadap air kencing tikus dan hewan reservoir lainnya.
Kondisi lingkungan yang tercemar memperparah risiko penularan dan kesehatan masyarakat pascabanjir. Peningkatan interaksi masyarakat dengan lingkungan yang tercemar meningkatkan kemungkinan terpapar bakteri Leptospira.
Risiko penyakit berbasis fekal-oral, terutama diare, juga meningkat pasca banjir. Kondisi sanitasi yang buruk dan sumur dangkal yang terkontaminasi air banjir memicu beragam infeksi.
Baca juga: Aksi Unjuk Rasa BEM SI Dipastikan Digelar pada 2 September 2025
Dicky mengungkapkan, 'Orang BAB atau kencing dimana saja' menjadi salah satu pemicu penyebaran penyakit ini. Terbatasnya fasilitas mencuci tangan di lokasi pengungsian meningkatkan risiko penularan penyakit fekal-oral secara drastis.
Demam tifoid (tipes) juga merupakan penyakit lain yang sering meningkat setelah banjir. Dicky menjelaskan, 'Makanan dan minuman mudah terkontaminasi oleh air banjir', menyebabkan penyebaran bakteri penyebab demam tifoid.
Risiko ini memerlukan kehati-hatian lebih dari masyarakat terhadap konsumsi makanan dan minuman setelah bencana. Peningkatan kewaspadaan diperlukan untuk mencegah kasus infeksi yang semakin meningkat.
Genangan air yang tersisa setelah banjir menjadi tempat berkembang biak ideal bagi nyamuk, yang meningkatkan risiko penyakit demam berdarah dengue dan malaria. Dicky mencatat, 'Ini biasanya terjadinya satu bulan pasca bencana, jadi agak lebih lama'.
Kesadaran akan keberadaan penyakit terkait vektor ini sangat penting, terutama ketika komunitas berusaha pulih dari dampak bencana.
Baca juga: Menjelajahi Lima Kota Ramah untuk Liburan Sendirian di Indonesia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: