Kebiasaan Makan Sendiri: Ancaman Tersembunyi untuk Kesehatan Lansia
Kebiasaan makan sendiri yang semakin meluas dapat berisiko bagi kesehatan fisik dan mental, terutama pada lansia. Penelitian dari Flinders University menunjukkan bahwa frekuensi makan sendirian dapat memicu masalah kesehatan serius.
Baca juga: Kemenperin Belum Menerima Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia
Tim peneliti menganalisis dua dekade penelitian terkait, menemukan bahwa lansia yang sering makan sendiri berisiko lebih tinggi mengalami kondisi fisik yang melemah. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Appetite.
Frekuensi makan sendiri pada lansia cenderung menyebabkan penurunan kualitas pola makan. Mereka berisiko mengonsumsi makanan yang tidak bergizi, seperti yang terlihat dari penurunan asupan protein dari 58 gram menjadi 51 gram per hari.
Penurunan asupan nutrisi ini dapat menyebabkan hilangnya massa otot dan melemahnya kekuatan tubuh, sehingga meningkatkan ketergantungan pada orang lain. Studi tersebut menunjukkan bahwa lansia yang makan sendiri lebih memilih makanan siap saji yang umumnya tinggi garam dan gula.
Di Swedia, data menunjukkan bahwa individu yang makan sendiri mengkonsumsi makanan siap saji empat kali lebih banyak dibanding mereka yang makan dalam kelompok.
Baca juga: Penangkapan ‘Profesor R’ Terkait Aksi Demo Ricuh di Jakarta
Kebiasaan makan sendirian memiliki dampak psikologis yang signifikan dan dapat mengurangi motivasi untuk memilih makanan lebih sehat. Peneliti menekankan pentingnya aspek sosial dalam kebiasaan makan untuk mendukung pola makan yang baik.
Hilangnya rutinitas sosial saat makan dapat membebani psikologi individu. Kehadiran teman atau keluarga saat makan sering kali mendorong pilihan makanan yang lebih bergizi.
Makan sendirian menghilangkan isyarat sosial yang biasanya menginspirasi individu untuk mengambil porsi yang lebih baik dan lebih nutrisi.
Frailty, sindrom yang terkait dengan penurunan kekuatan tubuh dan kemampuan untuk pulih, sangat mengkhawatirkan dan berhubungan erat dengan risiko jatuh, disabilitas, dan hilangnya kemandirian. Oleh karena itu, perhatian terhadap kebiasaan makan sangat penting.
Para ahli merekomendasikan agar dokter memperhatikan pola makan pasien lansia selama pemeriksaan kesehatan. Keluarga juga diharapkan lebih aktif mengajak anggota keluarga untuk makan bersama.
Interaksi sosial saat makan dianggap sebagai langkah yang sangat bermanfaat bagi kesehatan tidak hanya bagi lansia, tetapi untuk semua kelompok umur.
Baca juga: Penyelidikan Kasus Penjarahan di Rumah Eko Patrio Berlanjut
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: