Pandangan Gibran Rakabuming Raka di KTT G20: Pembangunan Melalui Kerja Sama dan Keadilan Sosial
Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, menyampaikan pandangannya tentang pembangunan negara dalam pidatonya di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Johannesburg, Afrika Selatan, pada Sabtu (22/11). Ia menekankan pentingnya kerja sama yang saling memberdayakan dalam merencanakan pembangunan.
Baca juga: Deddy Mahendra Desta Dukung Tuntutan 17+8 di Tengah Kontroversi
Dalam kesempatan ini, Gibran menegaskan bahwa setiap negara memiliki hak untuk menentukan jalur pembangunannya sendiri. Ia menggarisbawahi perlunya pertumbuhan global yang adil dan inklusif untuk memajukan setiap bangsa.
Dalam pidatonya, Gibran menyatakan, "Indonesia percaya bahwa setiap negara berhak memetakan jalur pembangunannya sendiri karena tidak ada satu model yang cocok untuk semua. Tidak ada yang namanya metode terbaik." Pernyataan ini mencerminkan komitmen Indonesia dalam menjunjung tinggi kedaulatan negara dalam proses pembangunan.
Lebih lanjut, Gibran menegaskan bahwa pertumbuhan global perlu bersikap adil dan inklusif. Ia menjelaskan bahwa kombinasi antara kebijakan pembangunan yang efisien dan pemerataan kesejahteraan adalah prasyarat penting untuk kemajuan setiap negara.
Baca juga: Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru: Diduga Lakukan Provokasi Anarkis
Wakil Presiden menyoroti perhatian KTT G20 terhadap isu keuangan berkelanjutan. Gibran menjelaskan, "Dunia membutuhkan pembiayaan yang lebih mudah diakses, terprediksi, dan setara, terutama bagi negara-negara berkembang, melalui keringanan utang, pembiayaan inovatif, pembiayaan campuran, dan mekanisme transisi hijau."
Ia menambahkan bahwa komitmen Pemerintah Indonesia tercermin dalam alokasi lebih dari separuh anggaran iklim nasional, yang mencapai sekitar 2,5 miliar dolar AS per tahun. Anggaran ini difokuskan untuk mendukung UMKM hijau serta infrastruktur berketahanan iklim.
Selama KTT G20, Gibran dijadwalkan untuk menyampaikan pidato dalam tiga sesi. Sesi kedua akan membahas pembangunan dunia yang tangguh, termasuk isu kebencanaan dan transisi energi berkeadilan.
Sesi ketiga akan mencakup pembahasan mengenai pekerjaan layak dan tata kelola kecerdasan buatan. Gibran juga mengusulkan untuk memberi perhatian lebih pada mineral kritis, salah satu prioritas Indonesia dalam pertemuan tersebut.
Baca juga: Aksi Unjuk Rasa BEM SI Dipastikan Digelar pada 2 September 2025
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: