Menteri Perhubungan Tanggapi Meningkatnya Penumpang Menginap di Stasiun Cikarang
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, mengungkapkan rencana penyesuaian operasional layanan KRL menjadi 24 jam untuk mengatasi meningkatnya jumlah penumpang yang terpaksa menginap di Stasiun Cikarang.
Baca juga: Staf KBRI Lima, Zetro Leonardo Purba, Meninggal Dunia Akibat Penembakan
Ia menekankan pentingnya kajian lebih lanjut, terutama terkait biaya dan dampak operasional dalam diskusi bersama PT Kereta Api Indonesia dan PT KAI Commuter.
Belakangan ini, Stasiun Cikarang menjadi lokasi penumpang KRL Commuter Line yang tidak berhasil mengejar kereta terakhir rute Cikarang-Tanah Abang-Cikarang. Beberapa penumpang terlihat beralaskan jaket dan tas, tidur di pintu masuk stasiun hingga dini hari sebelum kereta pertama beroperasi.
Informasi ini pertama kali viral melalui sebuah unggahan di Instagram yang menunjukkan kondisi tersebut. Dalam foto tersebut, tampak jelas beberapa penumpang memanfaatkan ruang stasiun sebagai tempat tidur sementara sambil menunggu kehadiran kereta pertama.
Baca juga: Kerusuhan di Bandung Berujung Penembakan Gas Air Mata oleh Pengamanan
Menteri Dudy Purwagandhi menegaskan perlunya pengkajian terlebih dahulu sebelum mengambil langkah untuk merealisasikan operasi KRL selama 24 jam. Menurutnya, pendekatan ini akan melibatkan diskusi dengan KAI dan KAI Commuter untuk memahami dampak operasionalnya.
“Nanti saya coba koordinasi dengan KAI dan KAI Commuter ya, apakah perlu KRL dapat beroperasi 24 jam untuk mengakomodir hal itu. Tapi tentunya, mereka perlu pengkajian dan semacamnya,” imbuhnya saat ditemui di Gedung DPR RI.
Dudy juga menekankan pentingnya memahami biaya yang akan dikeluarkan jika KRL beroperasi pada jam-jam tersebut. “Intinya, kami mesti tanya sama KAI dulu, costnya bagaimana kalau KRL beroperasi 24 jam, costnya seperti apa, solusinya bagaimana,” ujarnya.
Tindakan kooperatif antara Kementerian Perhubungan dan operator KRL diharapkan dapat memberikan gambaran lebih komprehensif mengenai kebutuhan penyesuaian layanan. Selain itu, koordinasi ini juga bertujuan untuk memastikan bahwa perubahan operasional tidak berdampak buruk terhadap perawatan dan keselamatan KRL.
“Setiap apa yang menjadi keperluan masyarakat ya kita tampung dulu, kemudian koordinasikan dulu ke operator terkait, karena ini juga nantinya mempengaruhi perawatan KRL itu sendiri,” lanjut Dudy, menjelaskan pentingnya langkah terencana ini.
Baca juga: Presiden Prabowo Instruksikan Kenaikan Pangkat untuk Polisi yang Terluka
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: