Penyakit Ginjal Kronis: Krisis Kesehatan yang Terabaikan
Dunia sedang menghadapi masalah kesehatan serius terkait penyakit ginjal kronis yang jarang diperhatikan. Data terbaru menunjukkan bahwa sebanyak 788 juta orang dewasa terdampak pada tahun 2023.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Tersendat di Kualifikasi Piala Asia, Berakhir Imbang Melawan Laos
Penyakit ini kini berada di peringkat kesembilan sebagai penyebab kematian tertinggi, merenggut nyawa 1,5 juta orang tahun ini. Ironisnya, lebih dari separuh penderita tidak menyadari bahwa ginjal mereka dalam kondisi berbahaya.
Riset terbaru dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) menunjukkan peningkatan kasus gagal ginjal atau CKD seiring dengan perkembangan gaya hidup modern. Menurut laporan IHME, banyak penderita berada di stadium awal yang tidak menunjukkan gejala jelas, sehingga mereka tidak menyadari kerusakan yang sedang terjadi pada ginjal.
Faktor risiko utama yang diidentifikasi meliputi gula darah puasa tinggi, kegemukan, dan hipertensi. Walaupun diabetes dan hipertensi tergolong penyebab utama, pola makan yang tidak sehat, kondisi lingkungan, dan faktor sosial ekonomi juga memberikan kontribusi terhadap meningkatnya CKD.
Di beberapa wilayah, penyebab khusus fenomena gagal ginjal misterius atau CKD of Unknown Etiology (CKDu) semakin menjadi perhatian, terutama di Amerika Tengah. Kasus ini terjadi pada pekerja yang terpapar panas ekstrem dan dehidrasi, menunjukkan dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat.
Baca juga: Lee Min-sung Ajak Timnas Korea Selatan U-23 Siap Bersaing di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Krisis gagal ginjal ini kian parah ditambah dengan ketimpangan akses terhadap layanan kesehatan. Negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah memiliki beban CKD yang tinggi, namun akses terhadap dialisis dan transplantasi ginjal sangat terbatas.
Di negara maju, meskipun prevalensi CKD lebih rendah, akses terhadap terapi pengganti ginjal tetap lebih baik. Ketidaksetaraan ini membawa dampak serius, menyebabkan angka kematian akibat CKD tetap tinggi di negara miskin, di mana banyak pasien tidak mendapatkan pengobatan yang diperlukan.
IHME juga mencatat bahwa kerusakan ginjal memiliki dampak yang lebih luas. Pada tahun 2023, disfungsi ginjal menyumbang 11,5% dari kematian akibat penyakit jantung secara global, menunjukkan hubungan yang erat antara CKD dan kanker kardiovaskular.
IHME menekankan bahwa deteksi dini menjadi kunci dalam memerangi CKD. Meskipun banyak negara kaya memiliki fasilitas kesehatan yang lebih baik, masih jarang dilakukan skrining untuk mendeteksi risiko CKD.
Para peneliti berharap temuan ini dapat mendorong pengambil kebijakan agar lebih serius memasukkan CKD dalam agenda kesehatan publik. Perluasan akses terhadap pengobatan yang efektif sangat penting untuk memperlambat kerusakan ginjal dan mencegah komplikasi jantung.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan CKD sebagai penyakit tidak menular prioritas global, menegaskan perlunya perhatian lebih terhadap penyakit ini yang sebanding dengan kanker dan diabetes.
Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Rencana Demo di Jakarta
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: