Penggerebekan Geng Kriminal di Rio de Janeiro: 119 Tewas dalam Operasi Polisi
Polisi di Rio de Janeiro, Brasil, baru saja melakukan penggerebekan besar-besaran di markas geng Comando Vermelho, yang berujung pada tewasnya 119 orang, termasuk 115 tersangka kriminal dan empat petugas polisi.
Baca juga: Sidang Etik Terkait Kematian Pengemudi Ojek Online: Tindakan Berat di Lingkungan Polri
Operasi ini berlangsung dalam upaya Presiden Luiz Inácio Lula da Silva untuk memberantas kejahatan terorganisir menjelang KTT perundingan iklim PBB di Amazon.
Operasi penggerebekan berlangsung dari hari Selasa hingga Rabu, memfokuskan pada geng Comando Vermelho, yang dikenal sebagai salah satu kelompok kriminal dan pengedar narkoba paling berpengaruh di kota tersebut.
Dalam pernyataan publik, Presiden Lula menegaskan urgensi melawan kejahatan terorganisir, menyebutkan, "Kita tidak dapat menerima bahwa kejahatan terorganisir terus menghancurkan keluarga, menindas penduduk, dan menyebarkan narkoba serta kekerasan di seluruh kota."
Lebih lanjut, ia juga mengatakan, "Kita membutuhkan kerja sama terkoordinasi yang menyentuh akar perdagangan narkoba tanpa membahayakan petugas polisi, anak-anak, dan keluarga yang tidak bersalah."
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Ukir Rekor Baru dengan Transfer Alexander Isak
Lebih dari ratusan polisi terlibat dalam operasi ini. Mereka menggunakan helikopter, kendaraan lapis baja, dan drone untuk mendukung jalannya penggerebekan, yang telah direncanakan selama lebih dari setahun.
Selama operasi berlangsung, terjadi baku tembak antara polisi dan anggota geng, menciptakan kepanikan di kalangan warga setempat. Laporan menyebutkan bahwa Comando Vermelho menggunakan bus yang disita untuk membarikade jalan dan menyerang polisi.
Kepala polisi menyampaikan bahwa operasi ini dianggap sebagai "keberhasilan", mengklaim bahwa satu-satunya korban di pihak petugas polisi dan 113 orang lainnya berhasil ditangkap.
Setelah penggerebekan, warga menemukan sejumlah mayat di hutan pinggir kota, termasuk mayat yang menunjukkan tanda-tanda kekerasan ekstrem. Salah seorang warga, Raquel Tomas, mengungkapkan kesedihannya dengan mengatakan, "Mereka menggorok leher anak saya, menggorok lehernya, dan menggantung kepalanya di pohon seperti piala."
Albino Pereira Neto, seorang pengacara yang mewakili keluarga korban, menambahkan bahwa banyak jenazah ditemukan memiliki bekas luka bakar dan tanda-tanda penyiksaan. Ia berkomentar, "Selama operasi, polisi seharusnya menjalankan tugasnya, menangkap tersangka, tetapi tidak mengeksekusi mereka."
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan keprihatinannya tentang jumlah korban, dan kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia mendesak agar diadakan investigasi cepat. Hakim Agung Alexandre de Moraes juga telah memanggil kepala polisi untuk memberikan penjelasan terkait tindakan tersebut.
Baca juga: Staf KBRI Lima, Zetro Leonardo Purba, Meninggal Dunia Akibat Penembakan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: