Militer Israel Serang Rafah di Tengah Gencatan Senjata
Militer Israel meluncurkan serangan udara di Rafah, Gaza, pada hari Minggu (19/10) saat gencatan senjata yang diprakarsai oleh Amerika Serikat masih berlangsung. Serangan ini dilakukan bersamaan dengan tuduhan pelanggaran gencatan senjata oleh pihak Hamas.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China: Merayakan 80 Tahun Kemenangan Perang
Media Israel melaporkan serangan ini sebagai respons terhadap informasi adanya serangan terhadap tentara Israel. Meskipun demikian, belum ada keterangan resmi dari pihak militer Israel maupun Hamas terkait insiden ini.
Menurut laporan dari AFP, serangan di Rafah, bagian selatan Gaza, terjadi setelah informasi dari Kan menyebutkan adanya pelanggaran gencatan senjata. Israel menegaskan alasan serangan ini adalah untuk merespons serangan yang ditujukan kepada tentara mereka.
Israel mengklaim bahwa 'beberapa teroris' melepaskan tembakan ke arah tentara di Rafah, meskipun tidak ada yang terluka dalam insiden tersebut. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai kesepakatan gencatan senjata yang sedang berlangsung.
Selain itu, militer Israel juga mengaitkan serangan ini dengan kebutuhan untuk terus mengurangi ancaman yang dianggap mendesak dari kelompok bersenjata lainnya di wilayah tersebut.
Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru Peroleh Sorotan Tajam dari Komnas HAM dan DPR
Pada hari yang sama, militer Israel melaporkan telah menyerang kelompok 'teroris' lain yang berdekatan dengan pasukan di Khan Younis. Pernyataan ini mencerminkan ketegangan yang meningkat antara kedua belah pihak, dengan saling tuduh mengenai pelanggaran gencatan senjata.
Pemerintah Israel juga mengumumkan bahwa perlintasan perbatasan Rafah antara Gaza dan Mesir akan tetap ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut. Hal ini menambah ketidakpastian dan ketegangan dalam situasi yang sudah semakin rumit.
Dalam beberapa hari terakhir, saling tuduh pelanggaran gencatan senjata antara pemerintah Israel dan Hamas semakin meningkat, memperburuk kondisi di lapangan.
Perselisihan antara Israel dan Hamas tidak hanya berfokus pada serangan, tetapi juga mencakup masalah pemulangan jenazah sandera. Israel telah menuntut Hamas untuk menyerahkan 28 jenazah sandera yang masih tersisa.
Hingga saat ini, Hamas baru memulangkan 20 sandera yang masih hidup dan 12 sandera yang telah meninggal. Hal ini menjadi aspek penting dalam negosiasi antara kedua belah pihak.
Hamas menjelaskan bahwa proses pemulangan jenazah yang terkubur di bawah reruntuhan memerlukan upaya dan peralatan khusus, menambahkan kompleksitas pada situasi yang sudah sulit ini.
Baca juga: Penangkapan ‘Profesor R’ Terkait Aksi Demo Ricuh di Jakarta
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: