Greta Thunberg dan Global Sumud Flotilla Tiba di Yunani Setelah Dideportasi Israel
Greta Thunberg, aktivis iklim asal Swedia, dan ratusan relawan Global Sumud Flotilla (GSF) tiba di Yunani setelah dideportasi oleh Israel saat berusaha mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.
Baca juga: Pimpinan DPR RI Dengarkan Aspirasi Mahasiswa dalam Pertemuan di Senayan
Setibanya di Bandara Internasional Athena pada Senin (6/10), Thunberg menekankan pentingnya misi ini dalam menghadapi blokade Israel yang dianggap ilegal dan tidak manusiawi.
Global Sumud Flotilla (GSF) adalah gerakan internasional yang bertujuan mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, wilayah yang saat ini berada di bawah blokade Israel.
Armada GSF berangkat dari Barcelona, Spanyol, pada awal September 2025 dengan melibatkan sekitar 40 kapal sipil.
Namun, saat berlayar menuju Gaza, armada ini dicegat oleh Angkatan Laut Israel di lepas pantai Mesir, di mana Israel menuduh GSF sebagai bagian dari Hamas.
Penghalangan ini menimbulkan ketegangan internasional, terutama terkait pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di wilayah konflik.
Setelah mendarat di Athena, Thunberg mengungkapkan kepada awak media bahwa aksi ini sangat memalukan, ketika pemerintah internasional tidak menunjukkan keinginan untuk membantu.
Baca juga: Kericuhan Memanas di Bandung: Penjelasan Terkait Insiden Gas Air Mata
'Kita bahkan tidak melihat upaya minimum dari pemerintah kita,' ujarnya.
Dari total 171 aktivis yang dideportasi oleh Israel, Kementerian Luar Negeri Yunani menyatakan bahwa penerbangan yang mendarat di Athena membawa 27 warga Yunani dan 134 warga negara lain dari 15 negara Eropa.
Hal ini mencerminkan dukungan internasional terhadap misi kemanusiaan tersebut dan beberapa negara Eropa menyatakan keprihatinan mereka terhadap pemindahan paksa ini.
Konflik antara Israel dan Palestina telah berlangsung selama bertahun-tahun, dengan banyak laporan menyebutkan kekerasan yang berlanjut terhadap warga sipil Palestina.
Thunberg menekankan perlunya tindakan global dalam mencegah genosida terhadap Palestina, yang dinilainya semakin meningkat dalam dua tahun terakhir.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: