Kontroversi Penggalian Terowongan di Bawah Masjid Al-Aqsa
Penggalian terowongan yang dilakukan Israel di bawah Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur menimbulkan kekhawatiran serius mengenai integritas situs suci tersebut. Banyak pihak mempertanyakan motif politik di balik proyek yang diklaim sebagai upaya arkeologi ini.
Baca juga: Direktur Lokataru Ditangkap, Polda Metro Jaya Tegaskan Dugaan Penghasutan Anarkistis
Para ahli memperingatkan bahwa aktivitas tersebut dapat merusak kepemilikan sah umat Islam atas masjid yang merupakan tempat ibadah terpenting ketiga dalam Islam. Citra satelit baru-baru ini menunjukkan jumlah penggalian yang semakin intensif, terutama di tengah keadaan konflik yang berkepanjangan ini.
Meskipun pihak Israel menggambarkan penggalian sebagai bagian dari proyek arkeologi, banyak pengamat berpendapat bahwa ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat klaim historis mereka terhadap Yerusalem. Ahli arkeologi telah mengungkapkan kekhawatiran bahwa proyek ini dapat menyebabkan kerusakan struktural yang parah pada Masjid Al-Aqsa.
Dukungan untuk kekhawatiran ini datang dari citra satelit yang menunjukkan aktivitas penggalian yang meningkat di sekitar lokasi suci. Keberadaan penggalian ini semakin membuat resah di tengah ketegangan yang meningkat akibat situasi perang di Gaza.
Baca juga: Calvin Verdonk Dekat Bergabung dengan Klub Prancis Lille
Aksi provokatif, termasuk tindakan anggota parlemen kanan yang mengibarkan bendera Israel di dalam masjid, memperburuk situasi yang sudah tegang ini. Tindakan semacam ini, bersamaan dengan pernyataan politikus yang menyerukan pembangunan kuil Yahudi di atas lokasi tersebut, menciptakan ketegangan baru di kawasan tersebut.
Kegubernuran Yerusalem Palestina juga menekankan bahwa penggalian ilegal yang dilakukan oleh Israel berdampak serius terhadap artefak-artefak penting Islam yang ada di situs bersejarah ini. Mereka secara tegas menyatakan bahwa tindakan ini tidak hanya merusak warisan budaya, tetapi juga melanggar hukum internasional.
Masjid Al-Aqsa, sebagai tempat suci ketiga bagi umat Islam, di bawah pengawasan ketat karena klaim sejarah yang saling bertentangan dengan umat Yahudi, yang mengenal area itu sebagai Temple Mount. Ketegangan ini semakin meningkat dengan penggalian yang terus berlangsung, memupuk ketidakpuasan di kalangan masyarakat regional.
Sejak Israel menduduki Yerusalem Timur pasca Perang Arab-Israel 1967, dan mencaplok seluruh kota pada tahun 1980, langkah-langkah tersebut tidak diakui oleh banyak negara di dunia. Situasi ini menambah kompleksitas pada konflik yang sudah berlangsung lama antara dua komunitas ini.
Baca juga: Mengubah Kamar Kecil Menjadi Ruang Cozy Dengan Beberapa Trik Sederhana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: