Presiden Madagaskar Bubarkan Pemerintahan Setelah Gelombang Protes Gen Z
Presiden Madagaskar, Andry Rajoelina, mengambil langkah untuk membubarkan pemerintahannya setelah gelombang unjuk rasa besar-besaran dari generasi muda, khususnya kelompok Gen Z.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Tersendat di Kualifikasi Piala Asia, Berakhir Imbang Melawan Laos
Keputusan ini diambil menyusul protes yang dipicu oleh masalah pemadaman listrik dan air serta meningkatnya angka kemiskinan di negara tersebut.
Protes yang berlangsung di Madagaskar diawali oleh pemadaman listrik dan air yang berkepanjangan, yang menimbulkan kemarahan di kalangan anak muda setempat. Ribuan demonstran berkumpul di berbagai lokasi untuk menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap pemerintah.
Dalam pernyataannya, Rajoelina mengakui kekecewaan rakyat dan meminta maaf, menyatakan, "Kami mengakui dan meminta maaf jika pemerintah belum melaksanakan tugas yang diberikan dengan baik." Hal ini disampaikan dalam pidato yang disiarkan melalui stasiun televisi lokal.
Data dari World Bank menunjukkan bahwa sekitar 75 persen dari 30 juta penduduk Madagaskar hidup di bawah garis kemiskinan. Hal ini memicu frustrasi yang mendalam di masyarakat, terutama di kalangan generasi muda yang merasakan dampak langsung dari kondisi tersebut.
Akses terhadap listrik di Madagaskar juga tergolong sangat terbatas, dengan hanya 36 persen penduduk yang memiliki akses yang andal. Ini mencerminkan ketidakpuasan yang meluas yang ada di masyarakat saat ini.
Gelombang protes yang dimulai oleh Gen Z di Madagaskar berujung pada kerusuhan, yang mengakibatkan sedikitnya 22 orang tewas, sebagaimana dilaporkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Aksi penjarahan dikabarkan terjadi di berbagai supermarket, toko kecil, dan bank.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan Rumah Ahmad Sahroni: Polisi Kembali Barang yang Hilang
Kepala negara merespons kekacauan tersebut dengan memberlakukan jam malam dan menerjunkan pasukan keamanan bermodal peluru karet untuk meredakan kerusuhan. Pada 26 September, Rajoelina juga mengambil tindakan tegas dengan memecat Menteri Energi.
Di tengah situasi yang memburuk, Rajoelina berupaya meredakan ketegangan dengan mengajak generasi muda untuk berdialog dan menjanjikan dukungan untuk bisnis yang terdampak dari aksi penjarahan.
Langkah-langkah ini diharapkan dapat memulihkan kepercayaan publik dan mengatasi tuntutan masyarakat akan perbaikan infrastruktur dasar.
Dalam protes ini, para demonstran Gen Z mengibarkan bendera anime Jepang, One Piece, sebagai simbol ketidakpuasan mereka terhadap pemerintah. Bendera ini menjadi lambang persatuan bagi generasi muda di berbagai negara dalam gerakan protes mereka.
Protes serupa dengan simbol One Piece juga berlangsung di negara lain seperti Indonesia, Filipina, Prancis, Nepal, dan Peru. Tindakan ini menunjukkan bahwa ketidakpuasan terhadap pemerintah bukanlah fenomena yang terbatas pada satu negara saja.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: