Di tengah industri fashion yang selalu berubah, terdapat sejumlah gaya yang tetap bertahan. Keberanian tradisi dan budaya lokal seringkali menjadi faktor kunci di balik daya tariknya.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Tersendat di Kualifikasi Piala Asia, Berakhir Imbang Melawan Laos
Fashion di Indonesia menunjukkan bahwa elemen-elemen tradisional, seperti batik dan tenun, tidak hanya relevan tetapi juga mampu bersaing dengan tren modern yang terus bergulir.
Pengaruh Budaya terhadap Fashion
Fashion sangat dipengaruhi oleh budaya lokal. Di Indonesia, elemen-elemen tradisional seperti batik dan tenun memegang peranan penting dalam industri fashion.
Batik, misalnya, bukan hanya menjadi pakaian formal, tetapi juga sering diaplikasikan dalam konteks casual. Hal ini menunjukkan bagaimana budaya dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Keberadaan fashion yang relevan dengan budaya dapat dilihat pada banyak desainer lokal yang mengangkat elemen tradisional dalam karya mereka. Mereka mampu menyatukan keaslian budaya dengan estetika modern.
Baca juga: Direktur Lokataru Ditangkap, Polda Metro Jaya Tegaskan Dugaan Penghasutan Anarkistis
Trend yang Sudah Berusia Seabad
Beberapa fashion item yang telah ada sejak puluhan tahun lalu masih tetap digemari hingga sekarang. Misalnya, denim dan little black dress adalah contoh gaya universal yang tak akan pernah mati.
Denim, yang awalnya hanya digunakan oleh pekerja, kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari jeans skinny hingga jaket denim, keserbagunaannya membuatnya selalu relevan.
Little black dress, di sisi lain, adalah produk yang diciptakan untuk memberikan kesederhanaan namun tetap terlihat elegan. Sejak diperkenalkan oleh Coco Chanel, item ini menjadi staple dalam setiap lemari pakaian wanita.
Peran Media Sosial dalam Fashion
Media sosial telah mengubah cara kita melihat fashion. Platform seperti Instagram dan TikTok memberikan tempat bagi para influencer untuk memperkenalkan tren baru.
Namun, tidak semua tren yang viral di media sosial dapat bertahan. Beberapa gaya hanya bersifat temporer dan cepat hilang, sedangkan yang bertahan biasanya memiliki nilai yang lebih mendalam.
Kita dapat melihat gaya vintage atau retro yang kembali populer di kalangan anak muda. Hal ini biasanya mengaitkan nostalgia dan ikatan emosional dengan generasi sebelumnya, membuatnya lebih relevan.
Baca juga: Finfluencer: Solusi Modern untuk Memperbaiki Keadaan Finansial
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: