Mengapa Snack Sulit Dihindari? Penjelasan dari Sisi Psikologis dan Lingkungan
Makan snack telah menjadi bagian dari rutinitas harian yang banyak dilakukan oleh hampir semua kalangan. Berbagai alasan mulai dari rasa lapar hingga keinginan menikmati sesuatu yang renyah menjadi pemicu utama kita menyantap camilan.
Baca juga: Penghentian Tunjangan Perumahan Anggota DPR: Komitmen Terhadap Transparansi Anggaran
Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa ada beberapa faktor yang membuat kita sulit menahan diri untuk tidak ngemil. Hal ini tak lepas dari pengaruh psikologis maupun lingkungan sekitar.
Snack sering kali terdiri dari kombinasi rasa yang dapat menggugah selera. Makanan seperti keripik, cokelat, dan permen dirancang untuk memicu rasa kenyang karena kandungan gula dan lemak yang tinggi.
Ketika kita mengonsumsi makanan tersebut, otak kita merespons dengan melepaskan hormon dopamine, yang memberikan rasa senang. Hal ini membuat kita merasa terdorong untuk terus mengonsumsi snack demi mendapatkan 'penghargaan' dari makanan itu.
Baca juga: Gubernur DKI Jakarta Cabut Instruksi Kerja Dari Rumah untuk ASN
Lingkungan sekitar memainkan peran penting dalam kebiasaan makan kita. Jika banyak snack tersedia di rumah atau saat berkumpul dengan teman, keinginan untuk menyantapnya semakin besar.
Kebiasaan ini sering kali muncul dari aktivitas sosial, seperti menonton film sambil ngemil, yang sudah menjadi tradisi bagi banyak orang.
Banyak orang menggunakan camilan sebagai cara untuk mengatasi stres atau emosi negatif. Snack, terutama yang manis atau berlemak, sering dijadikan pelarian dari perasaan yang tidak nyaman.
Menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal kesehatan, saat kita merasakan kecemasan atau kesedihan, makanan dapat memberikan kenyamanan sementara. Namun, hal ini malah dapat memperburuk kebiasaan makan kita.
Baca juga: Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru: Diduga Lakukan Provokasi Anarkis
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: